Penyebab Perceraian Dan Tips Mencegahnya

Siapapun yang menikah, pasti menginginkan rumah tangga yang langgeng. Dan data akhir-akhir ini sungguh memprihatinkan, yaitu tingginya angka perceraian. Bahkan di dunia pertelevisian, perceraian seolah-olah bukan hal yang tabu lagi, bahkan hampir menjadi kebanggaan, dan ini banyak ditiru oleh orang awam.

Banyak hal yang menjadi penyebab perceraian, oleh karena itu penting untuk diketahui dan dihindari.

Tulisan ini disarikan dari karya seorang ulama yang bernama Dr. Muhammad Nasir Al Humaid. Beliau salah seorang staf pengajar di Jami'ah Islamiyah Al-Madinah.

Beliau membagi sebab perceraian ini menjadi tiga bagian;

Pertama, sebab perceraian yang datangnya dari suami.
Kedua, sebab perceraian yang datangnya dari istri.
Ketiga, sebab perceraian yang disebabkan oleh keluarga kedua pasangan suami-istri.

talaq

A. Sebab Perceraian Yang Datang Dari Suami Dan Solusinya

1. Suami tidak menunaikan kewajiban yang dibebankan Allah kepadanya terhadap istri, yang dikarenakan faktor kebodohan (tidak mengerti), lalai, atau karena sengaja menentang syari'at Allah.

Selayaknya, seorang suami belajar untuk mengetahui tentang hak-hak istrinya. Tidak menganggap hal ini sepele, dan hendaklah dia takut kepada Allah dalam mempergauli istrinya.

Dengan demikian, diharapkan bahtera rumah tangga yang mereka arungi bersama akan tetap langgeng di bawah naungan syari'at Islam yang mulia. Diantara hak-hak istri terhadap suaminya, yaitu agar suami memperlakukan istri dengan baik, memberinya nafkah, menghormatinya, berlemah lembut, memaklumi kekurangan istrinya, dan berhias di hadapannya.

lbnu Abbas berkata,
"Aku sangat senang dan berupaya untuk berhias di hadapan istriku, sebagaimana akupun senang jika dia berdandan untuk diriku, karena Allah berfirman,
Bagi mereka (para istri) terdapat hak-hak yang wajib ditunaikan (terhadap suami mereka), sebagaimana mereka memiliki hak-hak yang wajib ditunaikan suami. (QS Al Baqarah:228) Tafsir Ibnu Katsir 1/ 237.
2. Tidak mematuhi wasiat Rasulullah, (yaitu) agar menikahi wanita yang taat agama, Sebagaimana dalam sabdanya,
Wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya,keturunannya, kecantikannya, maupun agamanya; maka carilah yang taat beragama. (Shahih Al Bukhari, hadits no. 5090, dan Shahih Muslim, hadits no. 1466).
Ketika salah seorang dari pasangan tersebut taat beragama, sementara yang lainnya tidak taat, pasti akan terjadi berbagai macam prahara antara keduanya. Seorang yang taat beragama akan berbuat hal-hal yang diridhai Allah, sedangkan pasangannya yang tidak taat, pasti akan menurutkan hawa nafsunya.

Seyogyanya, seorang pria yang akan meminang wanita agar mengindahkan pesan Rasulullah di atas, untuk mencari pasangan yang taat beragama -walaupun harus menunggu lama- hingga mendapatkan wanita tersebut.

Dengan menikahi wanita yang taat beragama, niscaya suami akan dapat mengarungi bahtera rumah tangga dengan penuh bahagia, dengan izin Allah tentunya.

Seorang suami memiliki tanggung jawab yang besar untuk mendakwahi istrinya dan menasihatinya dengan penuh kesabaran, bijaksana dan lemah lembut.

Allah berfirman,
Dan perintahkan keluargamu untuk melaksanakan shalat dan bersabarlah atasnya. (QS Thaha: 132).
Allah juga berfirman,
Dan serulah manusia ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasihat yang balk, dan debatlah mereka dengan cara yang paling baik. (QS An Nahl : 125).
Dengan demikian, diharapkan istri akan dapat menjadi lebih baik dengan izin Allah.

3. Kondisi rumah tangga yang jauh dari suasana religius serta taat kepada Allah, apalagi jika di dalam rumah itu terdapat berbagai macam sarana yang merusak, seperti: majalah-majalah ataupun video-video yang meruntuhkan sendi-sendi moral.

Selayaknya, dalam rumah seorang mukmin selalu dibaca Al Qur'an, khususnya surat Al-Baqarah yang memiliki keutamaan.

Sabda Nabi Muhammad SAW :
Janganlah kalian menjadikan rumah kalian seperti kuburan; sesungguhnya syetan-syetan akan berlari menjauh dari rumah-rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah. (Shahih Muslim, hadits no. 780.)
Dengan demikian jelaslah, bahwa rumah yang tidak pernah dibacakan Al Qur'an, bahkan justru dipenuhi dengan sarana-sarana maksiat yang mengundang murka Allah, (maka rumah itu) akan digandrungi syetan-syetan.

Akhirnya, ketenangan dan ketenteraman pun sirna, yang berakibat hancur luluh nya mahligai rumah tangga yang telah dibina. Seyogyanya, pasangan suami-istri berupaya menjaga rumah mereka agar tidak dimasuki syetan-syetan, sebagaimana mereka menjaganya agar tidak dimasuki pencuri.

Keduanya harus menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhiratnya, daripada sibuk bergelimang maksiat yang dapat membinasakannya. Hiasilah rumah dengan dzikrullah, ataupun suara tilawah Al Qur'an. Itulah sebaik-baik teman di rumah. Allah berfrman,
Ingatlah dengan dzikir kepada Allah, hati menjadi tenteram.(QS Ar Ra'du:28).
Seorang mukmin yang berakal jangan terkecoh, jika melihat rumah tangga yang penuh bergelimang kemaksiatan dan kemungkaran, namun seolah-olah kedua pasangan suami-istri (tersebut) hidup dengan rukun dan damai tanpa ada perselisihan.

Dalam satu hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas'ud, Rasulullah bersabda,

Sesungguhnya Allah ta'ala memberikan nikmat dunia kepada orang-orang yang dicintainya maupun yang dibencinya; tetapi Dia tidak akan memberikan nikmat beragama, kecuali kepada orang-orang yang dicintaiNya semata. (Musnad Imam Ahmad, 1/387; Al Mustadrak, 1/33. Dishahihkan Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi. Hadits ini adalah mauquf dari Ibn Mas'ud).

Allah sengaja memberi tangguh kepada para pelaku kemaksiatan, sebagaimana dalam firmanNya,
Janganlah tertipu dengan perbuatan orang-orang kafir di muka bumi. Sesungguhnya itu hanyalah kenikmatan sesaat,kemudian mereka akan dimasukkan ke neraka Jahannam. Itulah seburuk-buruk tempat. (QS Al Imran: 196-197).
Dalam ayat lain:
Dan orang-orang yang mendustakan ayat Kami, akan Kami beri tangguh mereka, tanpa mereka ketahui. Kemudian akan Aku berikan mereka tempo waktu. Sesungguhnya, tipu dayaKu sangat kuat. (QS Al-A'raf: 182-183).

Rasulullah bersabda,
Sesungguhnya, Allah sengaja menangguhkan (hukuman) terhadap seorang yang zhalim, ketika sampai masanya, maka Allah akan menghukumnya dengan tanpa memberi peluang lagi. (Shahih Bukhari, hadits no. 4686).

Orang yang mau memperhatikan rumah-rumah yang di dalamnya penuh kemaksiatan, akan mendapati, bahwa tidak selamanya mereka hidup dengan damai. Pasti banyak diantara mereka yang,hidup dalam kegoncangan dan kegelisahan.
Firman Allah Ta'ala, Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka akan kami berikan kepada siapa-siapa yang kami kehendaki. (QS Al Isra: 18).

Jelaslah, bahwa tidak semua orang yang menginginkan kesenangan dunia akan mendapatkannya.

4. Suami yang tidak penyabar.

Mungkin, faktor ini terjadi karena kelalaiannya, ataupun ketidaktahuannya tentang watak dasar dan tabiat wanita yang Allah ciptakan.

Wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok, sebagaimana sabda Rasulullah,
Berbuat baiklah kalian dalam mempergauli wanita. Sesungguhnya, mereka tercipta dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya,tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling di atas. Jika engkau berusaha untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkan nya. Jika engkau biarkan, maka dia akan tetap bengkok. Maka, berbuat baiklah kalian kepada mereka. (Shahih Bukhari, hadits no. 5186 dan Shahih Muslim hadits no. 1468)

Dalam riwayat lain,
Sesungguhnya, wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, dan dia tidak akan mungkin dapat tetap istiqomah dengan satu kondisi. Jika engkau bersenang-senang dengannya, maka engkau akan dapati itu padanya, namun dia tetap akan bengkok. Jika engkau berusaha untuk meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya, mematahkannya berarti engkau menceraikannya.(Shahih Muslim, hadits no. 1468.)

Hendaklah suami menyadari tabiat dasar dan _trah wanita, agar dapat menyikapinya dengan bijak dan sabar, karena ini adalah kodrat semua wanita. Dengan demikian, suami dapat memaklumi kekeliruan-kekeliruan yang mereka perbuat dan tidak perlu diambil hati. Hasan Basri berkata, "Seorang lelaki mulia tidak akan terlampau memperhitungkan segala kekeliruan istrinya." (Tafsir Al Baghawi 4/364).

5. Kemarahan yang meluap banyak menjadi penyebab suami terlampau cepat menjatuhkan thalak.

Bahkan, sebagaian suami ada yang memiliki tabiat jelek, (yaitu) selalu mengancam akan menceraikan istri, jika melanggar apa yang dibencinya, walaupun hanya sepele.
Seharusnya suami dapat menahan gejolak kemarahan, dan berupaya untuk diam. Jangan sampai suami berbicara semaunya, hingga tanpa sadar mengeluarkan kata-kata "thalak".

Rasulullah bersabda, Bukanlah orang kuat itu yang dapat menjatuhkan lawan dalam berkelahi, (tetapi) orang yang kuat ialah orang yang dapat meredam gejolak marah, ketika dia akan marah. (Shahih Al Bukhari, hadits no. 611 dan Shahih Muslim, hadits no. 2609)

Dalam suatu riwayat, pernah seseorang datang menghadap Nabi sambil berkata, "Berilah aku nasihat," Rasulullah bersabda, "Janganlah engkau marah," dia kembali bertanya dan Nabi masih terus mengulangi, "Janganlah engkau marah." (Shahih Al Bukhari, hadits no. 6116.)

Kiat Rasululullah Dalam Mengantisipasi Marah

- Berusaha untuk diam ketika akan marah,

Rasulullah bersabda, Jika engkau marah, maka diamlah. Jika engkau marah, maka diamlah. (Musnad Imam Ahmad 1/283-365. Hadits ini hasan lighairihi. (hadits yang terangkat derajatnya menjadi hasan karena beberapa sebab seperti adanya penguat dan syawahid dari hadits lain)

-Berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk.

Sulaiman Ibnu Sard meriwayatkan, pernah dua orang saling mencerca satu sama lainnya di hadapan Rasulullah. Sementara itu, kami sedang duduk di sisinya. Salah seorang dari mereka menghina yang lainnya dengan marah, hingga merah mukanya.

Maka Rasulullah bersabda, Aku mengetahui suatu kalimat, jika diucapkan olehnya (laki-laki yang merah mukanya), maka akan hilang kemarahannya. Hendaklah dia berkata: A'udzubillahi minasy syaithanir rajim (artinya, aku berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk). (Shahih AI Bukhari, hadits no. 6115. Dan Shahih Muslim, hadits no. 2610).

-Jika sedang marah, berusahalah untuk duduk.

Jika ternyata masih marah, maka hendaklah berbaring. Rasulullah bersabda, Jika salah seorang kalian marah dan dia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah duduk. Jika masih belum reda marahnya, maka hendaklah berbaring. (Musnad Imam Ahmad 5/152)

-Berwudhu, sebab wudhu dapat memadamkan kemarahan.

Rasulullah bersabda, Sesungguhnya, kemarahan itu berasal dari syetan. Dan syetan tercipta dari api. Dan sesungguhnya, api itu dapat dipadamkan dengan air Jika salah seorang diantara kalian marah, maka berwudhulah. (Musnad Imam Ahmad, 4/226)

-Keluar dari rumah untuk menghidari pertengkaran.
Dalam hal ini pernah terjadi pada Ali, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl lbn Sa'ad, dia menceritakan :
Rasulullah mendatangi rumah Fatimah, namun beliau tidak menemukan Ali. Maka beliau bertanya kepada Fatimah, "Mana anak pamanmu (Ali)"?'Fathimah menjawab,'Kami sedang bertengkar yang membuat aku marah,maka dia keluar dan tidak tidur siang di rumahku."
Rasul berkata kepada seseorang, 'Carilah dimana dia!" Kemudian orang tadi datang dan berkata, "Wahai Rasulullah, dia di masjid sedang tidur."Maka Rasulullah mendatanginya dalam keadaan berbaring, selendangnya terjatuh dari bahunya dan badannya berdebu, maka Rasulullah mengusap debu darinya dan berkata, 'Bangunlah wahai Abu Turaab, bangunlah wahai Abu Turaab!".

Kedua suami-istri hendaklah berusaha untuk tidak memancing kemarahan pasangannya, apalagi keduanya telah saling memahami tabiat masing-masing. Dalam hal ini, istri harus berupaya menghindari hal-hal yang membuat suami emosi, dan akhirnya menjatuhkan thalak.

6. Perilaku suami yang jelek sering membuat istri menuntut khulu' (minta diceraikan dengan mengembalikan mahar yang diberikan suami).

Banyak suami yang memiliki perangai yang jelek, bermulut keji, selalu mengumpat, melaknat ataupun selalu memukul istri. Hendaklah para suami takut kepada Allah dalam mempergauli istri. Seharusnya dia bersyukur kepada Allah yang telah memberinya istri. Yang sang istri ini dapat meredam gejolak syahwatnya dan menjadikannya fitrah (menjaga kesucian diri), apalagi jika istri telah melahirkan anak-anaknya.

Bukankah hal ini sepatutnya menjadikannya bersyukur kepada Allah? Nabi SAW berwasiat,
Berbuat baiklah kalian dalam mempergauli para istri.Dalam sebuah riwayat disebutkan:Ingatlah, berbuat baiklah kalian dalam mempergauli para istri. Sesungguhnya, mereka adalah 'awanin tawanan) di sisi kalian.

Rasulullah bersabda, "Janganlah kalian pukul para istri kalian," maka Umar datang kepada Rasulullah dan berkata, Zu'irna 'an nisa (para istri telah berani menentang para suami)," maka Rasulullah memperbolehkan para suami untuk memukul istrinya.

Setelah itu, datanglah para wanita ke rumah Rasulullah,mengadu perlakuan suami mereka. Maka Rasulullah berkata: "Banyak para wanita datang ke rumah keluarga Muhammad mengadukan perlakuan suami mereka. Sesungguhnya, para suami yang berbuat itu (memukul istri) bukanlah orang-orang yang terbaik diantara kalian". (Sunan Abu Dawud hadits no. 2146 dan sanadnya dishahihkan Ibn Hajar)
Beliau juga bersabda, Janganlah salah seorang kalian memukul istrinya seperti memukul hamba, kemudian dia mencampurinya di penghujung hari. (Shahih Al Bukhari hadits no. 5204).

Dari hadits ini, jelas disyari'atkan bolehnya memukul istri dalam rangka memberikan pendidikan dan jika membawa dampak yang positif dalam mendidik, selama tidak melampaui batas ketetentuan syari'at (Ibn Atsir : An Nihayah).

7. Suami ingin menguasai harta istri, atau memaksa istri agar memberikan harta yang dimilikinya itu kepadanya.

Kasus ini banyak menimpa para istri yang memiliki pekerjaan. Biasanya akan merusak hubungan antara keduanya, dan tidak sedikit berakhir dengan perceraian. Allah berfirman,
artinya : Janganlah kalian menahan mereka (para istri) (untuk dapat menikah) agar kalian dapat membawa sebagian dari harta yang mereka berikan kepada kalian, kecuali jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. (QS An Nisa: 19).
Allah berfirman :
Jika mereka dengan rela memberikan kepada kalian harta mereka,maka makanlah dengan baik-baik. (QS An Nisa: 4).

Tidak halal bagi suami mengambil harta istri, kecuali dengan kerelaannya atau jika istri berbuat nusus. Ketika seorang pria menikahi wanita yang berharta, jika menginginkan harta istrinya, maka dituntut darinya untuk berlemah-lembut. Cara ini lebih efektif baginya untuk mendapatkan keinginannya.

Cara lain yang diizinkan untuknya, yaitu dengan mengajukan persyaratan, bahwa istri harus membantunya dengan memberikan sebagian dari hasil gajinya. Dan hal ini sah-sah saja; apalagi dengan bekerjanya sang istri, akan mengurangi sedikit banyak perhatian dan kewajibannya terhadap suami.

Demikian ini tidak dapat diingkari, sebagaimana sabda Nabi, Kaum muslimin wajib menepati janji (kesepakatan) yang mereka perbuat, kecuali kesepakatan yang mengharamkan suatu yang halal atau menghalalkan yang haram. (Sunan At Tirmidzi hadits no. 1352)

Berapa banyak rumah tangga hancur berantakan ketika istri tidak memberikan apa yang diharapkan suami. Para istri hendaklah memahami hal ini, demi menjaga kelangsungan rumah tangga dan demi kemaslahatan anak-anak agar tidak terlantar.

8. Sikap acuh suami terhadap istri.

Banyak para suami tidak memberikan perhatian yang cukup dan lebih senang tidur di Iuar rumah daripada berkumpul dan berkomunikasi dengan istri. Apalagi, terkadang kesibukannya di luar rumah dalam hal-hal yang sepele dan tidak bermanfaat.

Seorang suami dituntut untuk dapat memberikan waktu dan perhatian yang cukup kepada istri. Tidak dibenarkan terus-menerus meninggalkan istri, walaupun dengan dalih sibuk mengerjakan ibadah-ibadah, seperti puasa sunnah maupun shalat malam. Bukankah Rasulullah bersabda, Jasadmu memiliki hak (beristirahat), matamu memiliki hak (untuk tidur) dan istrimu memiliki hak atas dirimu. (Shahih Al Bukhari hadits no. 5199, Shahih Muslim hadits no. 1159)

Pernah seorang wanita mendatangi Umar Ibn Al Khathab untuk mengadu, "Wahai, Amirul Mukminin. Suamiku seorang yang selalu berpuasa dan shalat malam. Aku sebenarnya enggan melaporkannya kepadamu karena sikapnya yang selalu melaksanakan ibadah-ibadah sunnah." Umar menjawab, "Alangkah bagusnya suamimu," namun wanita itu masih mengulangi perkataannya, dan Umar menjawab jawaban yang sama.

Akhirnya, Ka'ab Al Asadi berkata, "Wahai, Amirul Mukminin. Wanita ini sebenarnya mengadukan sikap suaminya yang tidak peduli lagi padanya," maka Umar berkata, "Sebagaimana yang engkau pahami dari wanita ini, maka engkau kuserahkan untuk mengadili perkara ini."

Akhirnya Ka'ab memanggil suami wanita itu. Ketika (suami wanita itu) datang, Ka'ab berkata kepadanya : "Istrimu mengadukan engkau kepada Amirul Mukminin."

Dia bertanya, "Karena apa? Apakah karena tidak kuberi makan ataupun minum?"
Ka'ab menjawab,"Tidak."
Akhirnya wanita itu berkata: Wahai hakim yang bijaksana, Masjid telah melalaikan suamiku dan tempat tidurku. Beribadah membuatnya tidak membutuhkan ranjangku. Adililah perkara ini, wahai Ka'ab
jangan kau tolak Siang dan malam tidak pernah tidur. Dalam hal mempergauli wanita, aku tidak memujinya
Kemudian suaminya menjawab: Aku Zuhud tidak mendatangi ranjang dan biliknya. Karena aku telah dibuat sibuk dan bingung dengan apa yang telah turun Yaitu surat An Nahl dan tujuh surat yang panjang dan Kitab Allah membuat hatiku takut dan risau.
Setelah mendengar ini, Ka'ab berkata: Dia memiliki hak atasmu, wahai lelaki. Jatahnya empat hari bagi orang yang berakal. Berikan hak itu, dan tinggalkan cela yang ada padamu. (Tafsir Al Qurtubi 5/11)

9. Sepele dengan lafazh Thalak.

Sebagian suami sering terlihat begitu ringannya mengeluarkan kata-kata thalak kepada istrinya. Terkadang sambil bergurau meluncur dari mulutnya ucapan thalak. Padahal Rasulullah bersabda, Tiga macam perkara akan tetap terjadi, walaupun diucapkan dengan sungguh-sungguh ataupun dengan bergurau, yaitu: nikah, talak, dan ruju' (Sunan At Tirmidzi hadits no. 1184, At Tirmidzi berkata, "Hasan gharib." Sunan Abu Dawud hadits no 2194, Sunan lbn Majah hadits no. 2039.)

Selayaknya, seorang suami menjaga lidahnya. Tidak menyepelekan lafazh thalak, yang tanpa disadarinya dapat meruntuhkan bangunan rumah tangga, hingga akhirnya dapat mendatangkan penyesalan yang berkepanjangan, setelah nasi menjadi bubur.

10. Ila' (sumpah suami untuk tidak mencampuri istrinya selamanya, ataupun lebih dari empat bulan).

Demikian Ini merupakan bentuk kezhaliman suami terhadap istri. Pada kondisi seperti ini, istri berhak menuntut perceraian setelah lewat empat bulan. Sebab Allah berfirman,
artinya : Bagi suami-suami yang bersumpah tidak mencampuri istrinya, maka istri menunggu selama empat bulan. Jika dia kembali dalam masa itu kepada istrinya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang. Jika dia berniat untuk menceraikannya, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Mengetahui. (QS Al Baqarah: 226-227).
Maka hendaknya para suami tidak menzhalimi hak-hak istri. Rasulullah bersabda, Takutlah kalian berbuat zhalim. Sesungguhnya, kezhaliman itu kegelapan pada hari kiamat. (Shahih Muslim hadits no. 2578.)

Jika masa empat bulan akan berakhir, seharusnya dia ruju' kepada istrinya,sebagaimana dianjurkan Allah dalam firmanNya:
Jika dia kembali dalam masa itu kepada istrinya, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang. (QS Al Baqarah : 226).
Jika tidak ruju', maka wajib atasnya menceraikan istrinya, jika si istri menuntutnya. Namun, jika istri sabar (tidak minta cerai, walaupun telah lewat empat bulan), demi kepentingan anak ataupun hal lainnya, maka boleh saja selama dirinya yakin terjaga dari perbuatan haram. Insya Allah dia (istri) akan mendapatkan ganjaran pahala yang berlipat ganda dari Allah, dengan harapan semoga suaminya kelak mendapat petunjuk dari Allah. Allah ber_rman, artinya:Barangsiapa yang bertagwa kepada Allah, akan dimudahkan baginya segala urusannya. (QS Ath Thalaq: 4).

11. Merasa tidak senang karena istri melahirkan anak perempuan. Karena faktor kejahilan, sebagian suami mengancam akan menceraikan istrinya, jika mendapat bayi perempuan. Sebenarnya wajib baginya beriman dengan ketetapan Allah dan takdirNya.

Bayi wanita ataupun pria itu lahir atas kehendakNya semata. Adapun manusia, tidak bisa memilih. Allah berfirman, artinya : Dan Rabb-mu yang mencipta apa-apa yang dikehendakiNya dan memilih, tidak ada hak manusia untuk memilih. (QS Al Qashas: 68).

Allah juga berfirman:

artinya: Dia memberikan siapa-siapa yang dikehendakiNya bayi perempuan, dan memberikan siapa-siapa yang dikehendakiNya bayi laki-laki, Dia juga yang menjadikan siapa-siapa yang dikehendakiNya mandul. (QS Asy Syura:49-50).

12. Muncul perasaan tidak suka terhadap istri, karena selalu membandingkan istrinya dengan wanita lain yang lebih baik dari istrinya dalam agama, akhlak, kecantikan, ilmu, kecerdasan dan sebagainya. Akhirnya, suami menjauhi istrinya tanpa ada sebab syar'i, seperti: istri meyeleweng ataupun menentang suami.

Seharusnya suami bersabar agar dia beruntung mendapatkan janji Allah, artinya: Dan bergaulilah kepada mereka dengan baik. Bisa jadi kalian membenci sesuatu, namun Allah menjadikan di dalamnya kebaikan yang banyak. (QS An Nisa: 19).

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibn Abbas berkata,"Suami berlemah-lembut terhadap istrinya, maka Allah memberikan karunia anak-anak yang baik-baik."
Imam lbnu Katsir berkata, "Mungkin sikap sabar kalian dengan tidak menceraikan istri yang tidak kalian sukai, akan membuahkan kebahagian bagi kalian di dunia dan akhirat."

Imam Asy Syaukani berkata, Semoga sikap benci kalian terhadap istri, akan digantikan Allah dengan sikap cinta yang akan mendatangkan kebaikan yang banyak, hubungan yang mesra ataupun rezeki anak-anak. Rasulullah bersabda: "Janganlah seseorang membenci pasangannya. Jika ia benci kepada salah satu sikap istrinya, pasti dalam hal lain ia akan rela."

Diriwayatkan dari Umar, dia berkata, "Sangat sedikit rumah tangga yang dibangun di atas cinta. Namun, kebanyakan manusia bergaul (menikahi) pasangannya dengan dasar Islam, menyambung nasab ataupun untuk berbuat ihsan."

Ibnul Arabi menyebutkan dengan sanadnya dan berkata, "Ada seorang syaikh yang dikenal berilmu dan memiliki kedudukan, bernama Abu Muhammad Ibn Abi Zaid. Istrinya berperangai jelek, tidak menjalankan kewajibannya sebagai istri dan selalu menyakiti suaminya dengan lidahnya. Orang-orang banyak yang heran dan mencela sikap sabarnya terhadap sang istri. Jika ditanya perihal sikap sabarnya terhadap istrinya, Abu Muhammad selalu berkata, "Aku telah diberikan Allah berbagai macam nikmat, berupa: kesehatan, ilmu dan budak-budak yang kumiliki. Mungkin sikap jelek istriku terhadapku disebabkan hukuman Allah kepadaku, karena dosa-dosaku. Aku takut, jika dia kuceraikan akan turun ujian kepadaku lebih berat dari ujian perangai istriku yang jelek."
Selayaknya, ini menjadi pelajaran berharga bagi para suami.

14. Penyakit berkepanjangan yang menimpa suami. Terkadang hal ini menjadi penyebab istri menuntut cerai.

Andai saja istri mau bersabar dan tetap merawatnya dengan mengharap balasan dari Allah, hal itu akan lebih baik baginya, sebagaimana firman Allah,
Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan diberi ganjaran yang tak terhingga. (QS Az-Zumar: 10)

Akan tetapi, jika dirinya takut akan tergelincir ke dalam perbuatan haram dengan menyeleweng, disebabkan sang suami tidak lagi dapat melayani kebutuhan biologisnya, (maka) dalam kondisi seperti ini, tidak mengapa dia menuntut agar diceraikan demi menjaga agama dan kesucian dirinya; memelihara perkara ini merupakan sesuatu yang wajib.

15. Sikap curiga suami terhadap istri, akibat pengaruh bisikan syetan.

Seharusnya dia berlindung kepada Allah dari syetan yang terkutuk, dan tidak berperasangka buruk.

Allah berfirman,artinya :
Wahai orang-orang beriman, jauhilah prasangka buruk, sesungguhnya prasangka buruk itu adalah dosa. (QS Al Hujurat: 12).

Suami harus sadar, bahwa perkara yang paling diupayakan syetan ialah memisahkan antara dua suami istri. Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda,Sesungguhnya lblis meletakkan kerajaannya di atas kemudian dia mengutus para tentaranya. Yang paling tinggi kedudukannya adalah syetan yang paling besar fitnahnya terhadap manusia. Salah satu dari mereka berkata kepada Iblis, "Aku telah berbuat begini dan begini," lblis menjawab, "Engkau belum berbuat apaapa," kemudian datang syetan yang lain dan berkata, "Tidaklah aku meninggalkan seseorang yang aku goda,hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya,"maka Iblis mendudukkannya di dekatnya dan berkata, 'Engkau sebaik-baik tentaraku.' (Shahih Muslim hadits no. 2813)

16. Suami berada di bawah kekuasan istri. Pindahnya tampuk kepemimpinan rumah tangga kepada sang istri, yang semestinya berada di tangan suami. Padahal Allah berfirman, artinya: Lelaki adalah pemimpin bagi wanita dengan kelebihan yang Allah limpahkan kepada sebagian dan' mereka dan dengan sebab nafkah yang mereka berikan (kepada istri-istri). (QS An-Nisa: 34)

Ini bisa mutlak terjadi, dikarenakan kelemahan pribadi suami atau anggapannya yang keliru, bahwa sikapnya itu sebagai wujud penghormatan kepada istrinya. Sehingga ketika ia sadar dan ingin mengembalikan kepemimpinan itu kepadanya, ternyata ia tidak sanggup. Sehingga, akhirnya berujung pada perceraian. Semenjak menikah, seorang suami harus benar-benar sadar, bahwa kepemimpinan rumah tangga wajib berada di tanggannya. Jangan sampai rasa cinta yang berlebihan atau rasa bangga dapat menikahi wanita tersebut, akhirnya membuat dia lemah di hadapan istri dan berujung dengan penyesalan tak berguna.

17. Suami datang ke rumah istri pada malam hari setelah lama bepergian tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Hal ini terkadang membuatnya melihat hal-hal yang dibencinya, karena istri dalam keadaan tidak siap menyambutnya. Rasulullah bersabda, Jika kalian bepergian lama, maka janganlah kalian mendatangi rumah istri kalian pada malam hari. (Shahih Al Bukhari hadis no. 5244, Sahih Muslim hadis no. 715)

Selayaknya suami mendatangi rumah istrinya pada siang hari ketika ia pulang dari bepergian dalam masa yang lama, dan dengan memberitahukan terlebih dahulu perihal kepulangannya, agar istri tidak terkejut.

18. Rumah tangga yang dibina atas dasar surat-menyurat, ataupun saling berkomunikasi melalui telepon -yang popular dengan istilah pacaran sebelum menikah-.

Mahligai rumah tangga yang dibangun di atas pondasi kropos seperti ini, biasanya akan berujung dengan kehancuran. Allah berfirman, artinya:
"Apakah sama orang yang membangun pondasinya di atas taqwa dan keridhaan Allah dengan orang yang membangun pondasinya di atas jurang neraka, yang akhirnya membuatnya terperosok ke neraka Jahannam; sesungguhnya Allah tidak akan menunjuki orang yang berbuat kezhaliman". (QS At-Taubah: 109)

Ibn Sa'di berkata,
"Sesungguhnya suatu perbuatan yang dikerjakan dengan ikhlas dan mengikuti sunnah, itulah makna dibangun di atas pondasi taqwa yang akan membuahkan surga penuh kenikmatan. Adapun perbuatan yang dibangun di atas niat buruk, dan kesesatan, itulah pondasi yang dibangun di tepi jurang neraka, yang membuatnya terperosok ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak akan membimbing orang-orang yang zhalim". (Tafsir Ibn Sa'di 2/ 289).

Para wanita jangan sampai terjerumus kepada hubungan haram (pacaran)yang menipu; agar tidak mengundang murka Rabb-nya yang akan mendatangkan kegagalan dalam hidupnya.

B. Sebab Perceraian Karena Faktor Istri Dan Solusinya;

1. Istri tidak melaksanakan kewajibannya terhadap suami, disebabkan karena jahil, lalai, atau sengaja menentang syari'at Allah.

Selayaknya seorang istri mengetahui kewajibannya terhadap suami dan takut kepada Allah. Semoga dengan demikian, hidupnya akan bahagia dengan keridhaan Allah dan suami terhadapnya.

Diantara kewajiban istri, yakni: mendengar dan patuh kepada suami, berhias diri di hadapannya, tidak membuatnya marah, tidak menolak berhubungan jika diajak suami, menjaga harta dan rumah suami, serta mempergauli suami dengan cara yang baik.

2. Istri yang tidak taat bersuamikan pria yang shalih.

Banyak mahligai perkawinan yang hancur berantakan, karena sang istri sulit meninggalkan kebiasaan buruknya.

Seorang istri yang mendapatkan suami shalih, selayaknya bersyukur dan berupaya mengikuti jejak suaminya untuk dapat istiqamah dalam beragama. Sehingga akan mendapatkan hidup tentram dan bahagia, dengan izin Allah. Sebab kebahagiaan hanya akan datang, bila taat kepada Allah.

Sebagaimana firman-Nya,
Barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, maka dia tidak akan pernah tersesat ataupun celaka. (QS. Thaha: 123)

3. Mengadukan berbagai macam permasalahan anak atau membantah suami yang sedang marah atau keletihan. Akhirnya, tidak mustahil gejolak amarah suami semakin menjadi dan tidak mustahil akan menceraikannya.

Seorang istri dituntut untuk mengerti kondisi suami. Tidak perlu melaporkan permasalahan rumah tangga kepadanya ketika kondisinya tidak tepat.

Jikalau harus mengadukan berbagai masalah, hendaklah dengan cara lemah lembut hingga suami dapat mengerti dan memahami yang diinginkan olehnya. Janganlah seorang istri membakar kemarahan suami dengan mendebatnya ketika suami sedang marah.

4. Nusyuz (menentang suami) dan sikap buruk istri.

Faktor ini banyak membunuh perasaan cinta diantara keduanya dan menjadi penyebab menjauhnya suami.

Dalam menyikapi nusyuz istri, Allah Ta'ala telah memberikan cara yang paling efektif untuk menjaga terurainya tali pernikahan. Allah berfirman,
Dan para istri yang dikhawatirkan akan berbuat nusyuz terhadap suaminya, maka nasehatilah mereka, jauhi ranjang mereka, dan pukullah mereka. Tetapi jika mereka patuh terhadap kalian, janganlah mencari-cari alasan untuk berbuat yang melampaui batas terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar. (QS. An-Nisa: 34)

Para suami harusnya mengambil langkah-langkah ini sebagai terapi. Tidak layak bagi suami terlampau cepat menjatuhkan thalak.

Langkah pertama, suami diharapkan menasehati istrinya dengan baik-baik. Jika ternyata langkah ini tidak efektif, maka suami menempuh langkah kedua, yaitu pisah ranjang. Jika langkah ini ternyata tetap tidak berguna, maka suami diperbolehkan mengambil langkah terakhir, yaitu memukulnya dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Langkah ini sebagai salah satu sarana mendidik, bukan untuk menyakiti. Semoga Allah dapat menunjukinya dengan cara terakhir ini.

5. Istri tidak mencintai suami.

Ketika istri merasa mustahil dapat hidup berdampingan dengan suami dan merasa tidak akan dapat bersikap ramah, maka diperbolehkan baginya untuk menuntut khulu' (Khulu' = cerai dengan syarat membayar sejumlah uang ataupun harta)sebagai solusi terakhir, ketika istri merasa yakin akan berbuat maksiat dan tidak dapat menjalankan kewajibannya.

Dalam kondisi seperti ini, tidak ada jalan lain, kecuali memisahkan antara keduanya. Allah berfrman,
Jika kalian khawatir keduanya tidak lagi dapat menjalankan hukum Allah, tidak mengapa bagi keduanya membuat kesepakatan dengan cara istri membayar sejumlah tebusan (agar suaminya menceraikannya). (QS. Al-Baqarah: 229).
Ibnu Abbas meriwayatkan, Istri Tsabit ibn Qois datang menghadap Rasulullah dan berkata,Sesungguhnya sedikitpun aku tidak menemukan cela pada suamiku Tsabit. Dia baik dari segi agamanya maupun sikapnya padaku. Namun aku tidak sanggup hidup dengannya. Rasulullah berkata padanya, "Maukah engkau mengembalikan kebunnya yang diberikannya padamu (sebagai mahar)?"
Dia menjawab, "Ya". (Shahih Bukhari, hadits no. 5275).

6. Istri menuntut cerai karena marah terhadap suami yang disebabkan perkara kecil. Atau disebabkan suami menikah lagi. Atau mungkin adanya pihak tertentu yang mengadu domba dan memecahbelah keduanya dengan menyebarkan berita bohong tentang suaminya. Atau bisa jadi berita itu benar, tetapi sebenarnya bukan sesuatu yang melanggar syari'at.

Seorang istri tidak layak menuntut cerai karena perkara-perkara seperti tersebut di atas, karena Rasulullah bersabda,Wanita mana saja yang mentuntu cerai dari suaminya tanpa ada kesalahan yang diperbuatnya, maka Allah mengharamkan baginya mencium bau Surga. (Sunan At-Tirmidzi, hadits no. 1187. Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan." Sunan Abu Dawud, hadits no. 2226. Sunan Ibn Majah, hadits no. 2055.)

Seorang istri jangan mudah termakan isu-isu para pengadu domba. Karena dapat membahayakan dirinya, suami maupun anak-anaknya; apalagi memutuskan tali pernikahan, tanpa ada sebabnya, maka hal itu diharamkan sebagaimana sabda Rasulullah, Tidak boleh membahayakan dan tidak boleh dibahayakan.

7. Istri ditimpa penyakit yang berkepanjangan ataupun telah lama menikah, namun belum juga membuahkan keturunan.

Dalam kondisi seperti ini, selayaknya suami tetap mempertahankannya sebagai bentuk penghormatan dan balasan kesetiaannya selama pernikahan mereka.

Solusinya, mungkin saja bagi suami untuk menikah lagi. Adapun masalah belum mendapatkan keturunan, mungkin juga disebabkan kemandulan suami.Dan jika ternyata disebabkan istri, maka tidak layak bagi suami meninggalkannya. Seharusnya dia memaklumi dan tetap mempergaulinya dengan baik. Sebab Allah berfirman,"Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang yang berbuat kebajikan. (QS. Al-A'raf: 170)

9. Istri yang tidak qona'ah (menerima apa yang ada), atau terlampau banyak menuntut hal-hal yang sebetulnya tidak begitu penting kepada suami. Apalagi kondisi keuangan suami yang memang tidak mengizinkan.

Tuntutan seperti ini, biasanya akan melahirkan pertengkaran, atau sikap jenuh suami, yang tidak mustahil berakhir dengan perceraian untuk dapat melepaskan diri dari himpitan tuntutan sang istri. Sang istri, selayaknya selalu rela dengan apa yang diberikan suami dan tidak menuntut macam-macam, kecuali memang sangat dibutuhkannya.

Terlebih lagi jika memang perekonomian suami tidak mendukung, ini akan membuat bahtera perkawinan akan lebih bertahan lama.

Seorang penyair (Yaitu Asma Ibn Kharijah An-Nazari, Lihat, "Masyahid Al-Inshaf 'Ala Syawahid Al-Kasyyaf" karya Al-Marzuqi, halaman 9) berkata, "Terimalah apa-apa yang telah kuberikan (Harta yang diberikan suami kepada Istri di luar dari kewajiban nafkah yang diberikan), engkau akan memperoleh cintaku selamanya. Janganlah engkau berbicara ketika emosiku meluap".

Seorang istri tidak boleh terpedaya dengan perhiasan dunia yang fana ini, sebagaimana firman Allah, "Dan tidaklah kehidupan dunia ini, melainkan kesenangan yang memperdaya. (QS. Ali Imran: 185).

Rasulullah bersabda,

"Berbahagialah orang yang telah masuk Islam, diberikan Allah rizqi yang cukup dan dia qona'ah (rela menerima) atas apa-apa yang diberikan Allah padanya". (Shahih Muslim, hadits no. 1054)

Rasulullah juga bersabda,

"Lihatlah kepada orang-orang yang di bawah kalian (lebih miskin),dan janganlah melihat kepada orang-orang yang berada di atas kalian (yang lebih kaya). Hal itu akan membuat kalian tidak menghina karunia yang diberikan Allah kepada kalian". (Shahih Bukhari, hadits no. 6490. Shahih Muslim, hadits no. 2963).

Semoga bermanfaat.
Baca : Beberapa Ketentuan Tentang Thalaq

Berlangganan update artikel terbaru via email:

"Penyebab Perceraian Dan Tips Mencegahnya"

Post a Comment

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan artikel di atas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel