Khutbah Jum'at : Pentingnya Pendidikan Anak

Hadirin jamaah jum’ah yang berbahagia.

Sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah atas segala kenikmatan yang telah kita terima, marilah kita senantiasa meningkatkan kwalitas taqwa kepada Allah Swt.

Hadirin...

Perkembangan zaman telah membawa perubahan tingkah laku bagi anak-anak kita. terlebih lagi sebagaimana yang diberitakan oleh berbagai media massa, seperti keberadaan genk motor yang semakin memprihatinkan. tentu dalam hati kita menimbulkan pertanyaan, apa yang salah dalam hal ini?

Hadirin...

Sesungguhnya Allah Swt mengutus Nabi Muhammad Saw untuk menjadi contoh dan memberikan suri tauladan yang baik dalam hal akhlak, seperti mendidik, berlaku sabar dalam menghadapi kelakuannya maupun sabar dalam memberi bimbingan sejak sang anak masih dalam kandungan hingga mereka dewasa.

Selama ini sebagian orang tua langsung bereaksi atas semua perbuatan anaknya, mereka memandang anak sebagai orang yang sudah dewasa sehingga semua yang dilakukan harus sesuai dengan tingkah laku dewasa. Sehingga ketika anak tersebut "nakal", maka biasanya orang tua akan mengurungnya dalam lemari, memukul, tidak boleh bermain di luar rumah, bahkan mengurangi uang jajan dan lain sebagainya.

Mengapa para orang tua tidak introsfeksi diri, mengapa anak saya menjadi begini? apa yang salah pada saya?. Tidak mengherankan jika sekarang orang tua banyak yang mengeluh karena anaknya terlibat dan akrab dengan nark0b4, lebih betah di diskotik daripada di rumah, minum-minuman k3ras serta pergaulan bebas.

Selama ini orang tua hanya memperhatikan dari sisi kebutuhan lahiriah, memberikan harta dan fasilitas yang cukup namun kebutuhan batiniahnya tidak diperhatikan. Bukankah sayang jika permata hati kita nantinya hanya generasi yang penuh dengan daging tambun sedangkan hatinya keropos dari nilai-nilai dan ruh agama maupun ilahiyah.

Padahal anak sesuai dengan fitrahnya merupakan amanat Allah yang harus dijaga, dipelihara, dan dirawat dengan kesabaran disertai dengan tawakkal untuk tetap berdo’a semoga diberi anak-anak yang shalih, bukan cuma cerdas dan berprestasi di sekolah semata akan tetapi mampu menjadi qurrata a’yun di masa depan.

Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 74:
“Dan orang-orang yang berkata, Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri dan anak-anak yang jadi permata hati dan jadikanlah kami pemimpin yang bertaqwa”.

Hadirin jamaah Jum’ah yang berbahagia.

Rasulullah Saw adalah contoh terbaik dalam hal memperlakukan anak. Rasulullah Saw suka bermain dengan cucu-cucunya, mengajarkan kepada para sahabatnya rasa cinta kepada anak-anak mereka.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ia berkata:
“Pernah Rosulullah Saw mencium Hasan bin Ali bin Abi Thalib, pada saat itu ada Aqra’ bin Habis Attamimy yang sedang duduk. Dia lalu berkata, “Saya mempunyai sepuluh orang anak namuntidak pernah satupun dari mereka saya cium”. Rasulullah SAW melihat kepadanya dan berkata:
مَنْ لاَ يَرْحَمُ لاَ يُرْحَمُ.
“Siapa yang tidak merahmati tidak dirahmati (oleh Allah)” (HR. Al-Bukhari dan muslim).

Mencium anak-anak merupakan salah satu wujud kasih sayang orang tua kepada anak sekaligus merupakan contoh ril agar anak tidak mencium orang lain yang bukan mahramnya. Jika orang tua sering mencium anaknya ketika mereka kecil, maka setelah mereka dewasa tidak akan membuat mereka mencium orang lain apalagi sampai berbuat zina karena mereka sendiri telah merasa cukup dengan kasih sayang dari orang tua dan insya Allah mereka akan menjadi anak-anak yang membahagiakan orang tuanya.

Kewajiban orang tua terhadap pendidikan dalam rumah tangga.

Orang tua berkewajiban untuk mendidik anak-anaknya, mengajarkan mereka pengetahuan agama dan akhlaq yang baik. merupakan bekal bagi anak tersebut ketika kelak ia sudah hidup ditengah-tengah masyarakat.

Rasa cinta kepada anak sering membuat orang tua terlalu membanggakan anak nya. Mereka dengan bangga akan menceritakan tentang anaknya kepada koleganya. Terutama mengenai prestasinya, ketampanan/ kecantikannya, kepintarannya, keberaniannya dan lainnya. Kadang-kadang cerita ini membosankan orang yang mendengarnya. Sebaliknya tak ada orang yang ingin menceritakan kepada tamunya bahwa anaknya bodoh, nakal, penakut dan sebagainya.

Anak sering pula menyebabkan orang tua lupa kepada Allah dan RasulNya. Saking sibuknya mengurus anak-anaknya, mereka bekerja mati-matian mencari uang agar semua permintaan anaknya dapat terpenuhi. Kadang-kadang permintaan yang tidak masuk akalpun dipenuhi, demi cintanya kepada anak. Sayang kepada anak sering pula menyebabkan orang tua korupsi dan mencuri demi memenuhi keinginan anaknya tersebut.

Salah dalam mendidik anak, dapat membuat anak berlaku kurang ajar kepada orang tuanya. Orang tua akan diperlakukan bagaikan pembantu, ia merasa berkewajiban untuk memenuhi segala keinginan anaknya. Sebagai contoh, banyak orang tua yang tidak berani membangunkan anaknya diwaktu subuh untuk sholat karena kasihan atau takut anaknya akan marah.
Allah Swt berfirman dalam Surah Saba’ : 37:
“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan diri kalian kepada Kami sedikit pun, tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih.”

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia.

Berdasarkan ayat tadi bagi orang tua mendidik anak adalah kewajaran, karena kodratnya; selain itu karena cinta. Mengingat uraian di atas, maka secara sederhana tujuan pendidikan anak di dalam keluarga ialah agar anak itu menjadi anak yang shalih. Anak seperti itulah yang patut dibanggakan. Tujuan lain adalah sebaliknya, yaitu agar anak itu kelak tidak menjadi musuh bagi orang tuanya.

Anak yang saleh dapat mengangkat nama baik orang tuanya, karena anak adalah perhiasan bagi keluarga dan akan mendo’akan orang tuanya kelak. Bila tidak mendo’akan orang tua, keshalihannya telah cukup merupakan bukti amal baik bagi orang tuanya.

Pada suatu waktu orang tua amat susah karena anaknya nakal. kedudukan yang terhormat akan berbalik menjadi terhina. Ia akan dibuat pusing oleh tingkah polah anaknya. Bahkan tidak jarang ia akan berurusan dengan pihak berwajib karena anaknya melakukan tindak kr*minal, seperti mencuri, mabuk-mabukan, pesta ob*t terlaranag ataupun pergaulan bebas dan lain sebagainya, bahkan bisa saja karir orang tua tersebut akan hancur dikarenakan kenakalan anak nya tersebut.

Kapankah sebaiknya kita mulai mendidik anak? Jawabannya tidak lain adalah semenjak masih dalam kandungan. Bahkan dalam Islam dimulai semenjak memilih pasangan hidup, kemudian saat hamil, saat lahir, saat anak-anak sampai dewasa. Mengenalkan mereka kepada Allah, tentang tauhid, tentang akhlaq dan sebagainya.

Lalu bagaimana jika cara tersebut sudah dilaksanakan dan anak-anak tetap saja nakal? Sabar, tawakkal dalam menghadapinya adalah obat terbaik sambil tetap berdo’a memohon kepada Allah agar kenakalannya tidak membawa madlarat bagi dirinya sendiri, orang tuanya dan masyarakatnya.

Baarokallahu...........

Berlangganan update artikel terbaru via email:

"Khutbah Jum'at : Pentingnya Pendidikan Anak"

Post a Comment

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan artikel di atas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel