Apa Makna Tujuh Langit Itu?

Apa Sebenarnya Yang Dimaksud Tujuh Langit Itu?


Sobat pembaca mungkin pernah bertanya-tanya dalam hati, apa yang dimaksud dengan tujuh lapis langit sebagaimana yang disebutkan dalam al-Qur’an. Saya pun demikian. Awalnya saya mengira bahwa tujuh lapis langit itu diibaratkan bagaikan lampiran lembaran kertas yang bersusun.

Lalu bagaimana sebenarnya makna tujuh lapis langit itu menurut para ahli?

Perhatikan gambar di bawah yang merupakan ayat ke 3 surah al-Mulk.
surah al mulk

Pada ayat tersebut Allah SWt memakai kata Tibaq setelah kata Samawat (langit). Kata yang sama dapat kita temui pada surah Nuh ayat 15. Kata tibaq ini merupakan isim masdar dari kata Tabaqa yang artinya tingkatan atau lapisan. Sama halnya dengan kata Tabaqatul Ard yang artinya adalah lapisan bumi.

Kata Tabaqa dapat diartikan tingkatan jika berkenaan dengan benda-benda alam yang bersusun satu berada pada di atas yang lain. Dan dapat pula diartikan dengan lapisan apabila berkenaan dengan sesuatu yang bersusun tanpa jarak seperti lapisan bumi.

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa bumi yang kita tempati ini merupakan lapisan-lapisan yang terdiri dari unsur humus, tanah, bebatuan dan lain sebagainya.
Silahkan baca artikel terkait dengan judul TUJUH LAPIS BUMI.

langit

Kita kembali ke pembahasan tentang tujuh lapis langit.

Syekh al-Maraghi dalam tafsirnya (silahkan baca biografi beliau DISINI) mengartikan tujuh langit itu adalah tujuh planet dalam tata surya selain bumi dan bulan. Sedangkan Buya Hamka dalam tafsir al-Azhar berpendapat bahwa tujuh langit itu adalah menunjukkan adanya benda-benda langit yang sangat banyak jumlahnya. Karena kata tujuh itu bukan bermakna bilangan setelah enam sebelum delapan, melainkan untuk menunjukkan sesuatu yang banyak sebagaimana kebiasaan dalam tata bahasa arab.

Lalu bagaimana sebenarnya jika dikaitkan dengan ilmu Astronomi?

KAJIAN AHLI ASTRONOMI


Sebenarnya pemahaman akan makna tujuh langit itu selalu mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan manusia tentang alam semesta.

Pada zaman Eropa kuno, muncul anggapan bahwa langit itu berlapis-lapis dengan bumi sebagai pusat alam semesta (Geosentrik). Dalam pemahaman tersebut, benda langit yang bernama bulan berada pada langit pertama. Lalu pada langit kedua sampai ketujuh terdiri dari Merkurius, Venus, Matahari, Mars, jupiter dan Saturnus.

Selanjutnya berkembang pula teori Ptolomeus yang menyatakan bahwa Merkurius dan Venus mengelilingi Matahari, namun selain kedua planet itu masih dianggap tetap mengelilingi Bumi.

Perkembangan teori selanjutnya diusulkan oleh Copernicus. Teori beliau berbeda dengan teori sebelumnya yang menganggap Bumi sebagai pusat alam semesta. Teori Copernicus menyatakan bahwa pusat alam semesta adalah Matahari atau lebih dikenal dengan model Heliosentrik. Jadi, Bumi beserta planet-planet lain seperti Merkurius, Venus, Bumi, Mars dan Jupiter (selain Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto) mengelilingi Matahari, sedangkan bulan mengelilingi Bumi.

Manusia terus berusaha mengkaji pemahaman tentang tujuh langit itu. Ada satu pendapat yang menyatakan bahwa tujuh langit itu merupakan lapisan-lapisan atmosfer yang dekat dengan bumi, seperti : Troposfer, Tropopaus, Stratosfer, Stratopaus, Mesofer, Mesopause dan Termosfer. Jumlahnya ada tujuh.

TUJUH LANGIT DALAM PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ


Apabila teori-teori diatas kita kaitkan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW sepertinya kurang tepat. Tujuh langit dalam peristiwa ini mungkin dapat diartikan sebagai tujuh dimensi ruang dan waktu dalam teori Kaluza Klein.

Dalam ilmu Fisika, di jagat raya ini terdapat empat gaya pundamental, yaitu Gaya Elektromagnetik, Gaya Nuklir Lemah, gaya Nuklir Kuat dan Gaya Gravitasi. Jika keempat Gaya ini terbentuk dari Ledakan Besar (Big Bang) maka semestinya keempat gaya ini dahulunya adalah sesuatu yang pada (menyatu).

LALU BAGAIMANA SEBENARNYA YANG DIMAKSUD OLEH AL-QUR’AN?


Mari kita coba memahaminya, yakni memahami ungkapan-ungkapan dalam al-Qur’an kemudian membandingkan dengan pemahaman Ilmu Astronomi.

Di dalam al-Qur’an, bilangan “tujuh” ataupun “tujuh puluh” sering mengacu pada sesuatu yang tak terhingga jumlahnya. Kita lihat bagaimana al-Qur’an mengibaratkan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah dalam surah al-Baqarah : 261.
“ perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui”.

Tujuh bulir dikalikan seratus butir maka didapatkan hasil = 700 (tujuh ratus). Makna tujuh ratus ini menunjukkan bilangan berlipat ganda (tidak terhitung) bukan angka pasti (benar-benar 700). Sebab kalau itu angka pasti (700) maka ada kemungkinan orang akan terpaku pada hitung-hitungan balasan dari amalnya. Dan banyak lagi ayat lain yang memakai bilangan tujuh untuk mengungkapkan makna banyak.

Dalam kata lain, makna dari kata "tujuh” itu menunjukkan jumlah yang sangat banyak dan lebih dari apa yang kita bayangkan. Dalam ilmu Matematika, jumlah yang tak berhingga ini disimbolkan dengan ∞ (infinity).

Selanjutnya al-Qur’an menyebutkan bahwa tujuh langit itu diciptakan dalam keadaan “bertingkat-tingkat”. Ungkapan ini kurang tepat apabila difahami sebagai sesuatu yang berlapis sebagaimana lapisan kertas, melainkan bahwa benda-benda langit itu berada pada jarak yang berbeda-beda sehingga dapat disebut bertingkat-tingkat.

Langit juga dapat dimaknai sebagai sesuatu yang berada di atas kita. Dengan demikian, kata langit bisa mencakup atmosfer yang melingkupi Bumi hingga galaksi yang terjauh yang masih banyak belum diketahui. Dari kenyataan ini berarti awan troposfer juga merupakan bagian dari langit. Sehingga apabila dikatan “hujan turun dari langit” itu benar adanya.

Lapisan Ozon yang melindungi Bumi dari sinar Ultraviolet dan Ionosfer yang berfungsi sebagai pemantul gelombang radio juga merupakan bagian dari langit. Dan sungguh tepat apabila al-Qur’an menyebutkan bahwa langit itu sebagai atap yang terpelihara (lihat surah al-Anbiya’ : 32).

Pendek kata, seluruh benda luar angkasa seperti galaksi-galaksi yang jumlahnya teramat banyak, Magnetosfer yang melindungi Bumi dari parrtikel bermuatan energi besar dari Matahari juga termasuk bagian dari kata “LANGIT”.

Maha Besar dan Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

Semoga artikel tentang apa sebenarnya tujuh langit ini bermanfaat. Amiiin.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

"Apa Makna Tujuh Langit Itu?"

Post a Comment

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan artikel di atas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel