Al-Qur'an Berbicara Mengenai Lebah

Al-Qur’an telah banyak membahas mengenai kehidupan lebah, bahkan ada surah di dalam al-Qur’an yang dinamakan dengan surah an-Nahl (yang berarti lebah).

Bagaimana sebenarnya kehidupan lebah ini?
Pada surah an-Nahl : 68-69, Allah Swt sudah menjelaskannya, lihat gambar.

A. Kehidupan lebah

Diseluruh dunia, tidak kurang dari 20.000 jenis lebah yang hidup. Salah satu jenis lebah yang dimanfaatkan oleh manusia adalah lebah madu. Manusia pra-sejarah yang hidup 8.000 – 15.000 tahun yang lalu telah memanfaatkan madu lebah, bahkan mereka sudah menjelaskan bagaimana cara memanen sarang lebah sebagaimana yang terpahat pada dinding-dinding gua.

Pada zaman Mesir kuno, lebah juga sudah mulai diternakkan, yakni sekitar 2.400 tahun sebelum masehi. Lalu cara beternak lebah ini menyebar dikawasan Laut Tengah bahkan sampai ke Eropa.

sarang

Penelitian mengenai lebah pun sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari. Aristoteles merupakan orang pertama yang secara serius meneliti perilaku lebah madu, walaupun ternyata dikemudian hari banyak teorinya yang tidak tepat.

Sebagai contoh, ia berkesimpulan bahwa larva lebah madu dihasilkan oleh bunga olive. Ia juga menyimpulkan bahwa madu tersebut dihasilkan langsung dari kelopak bunga, dan bahwa koloni/ kelompok lebah itu dipimpin oleh seekor lebah jantan. Sekitar 1.800 tahun, teori bahwa koloni lebah dipimpin oleh seekor lebah jantan itu terbantahkan.

Dalam setiap sarang lebah madu, ada tiga tipe lebah yang berbeda, yakni lebah ratu (lebah betina), lebah pekerja dan lebah jantan. Pada setiap sarang hanya memiliki satu ratu yang bertugas menghasilkan telur. Ia dilindungi, dirawat dan diberi makan oleh lebah pekerja. Meskipun statusnya adalah sebagai ratu (lebah betina), namun ia tidak memiliki insting sebagai orang tua. Tugasnya semata-mata hanya menghasilkan telur, sedangkan memelihara telur sampai dewasa adalah tanggung jawab lebah pekerja.

Lebah betina –semuanya betina- berjumlah antara 40 ribu sampai 80 ribu ekor dalam satu sarang. Tugas-tugas lebah pekerja ini dibagi secara rinci dan sempurna. Bagaimana masing-masing individu tersebut memahami tugas dan fungsinya secara tepat, tampaknya hanya Tuhan yang mengetahui.

Lebah pekerja berganti-ganti tugas sesuai dengan usianya. Setengah dari waktu dewasanya, yakni tiga minggu pertama, mereka bekerja sepenuhnya sebagai pelayan rumah (sarang) sebab hanya merekalah yang mempunyai kelenjar yang menghasilkan cairan yang bernama Royal Jelly, suatu cairan yang menjadi makanan bagi larva atau anak lebah.
(Baca manfaat dan khasiat royal jelly pada artikel dengan judul “Khasiat Propolis dan Royal Jelly”).
Selain itu, pada umur ini, lebah madu memiliki kelenjar penghasil lilin yang merupakan bahan dasar pembuatan sarang.

Pada hari-hari pertama, mereka bekerja sebagai pembersih sarang, memastikan sarang tetap bersih dari kotoran dan debu. Kemudian mereka akan naik pangkat menjadi pemberi makan larva atau anak lebah, suatu pekerjaan yang tidak ringan.

Betapa tidak, seekor larva harus diberi makan sebanyak 1.300 kali perhari. Pada hari ke-10, mereka berganti tugas menjadi penerima nektar dan benang sari, serta menyimpannya dalam lubang-lubang sarang. Mereka juga bertugas untuk memperbaiki dan memperluas sarang, disamping bertugas merawat ratu lebah.

Selesai melaksanakan dua tugas ini, mereka berganti peran menjadi lebah penjaga. Selain menjjaga gerbang sarang, mereka juga diberi tugas untuk melaksanakan eksplorasi di sekitar sarang. Pada usia tiga minggu, mereka bertugas mengumpulkan nektar dan benang sari sebagai bahan makanan. Tugas ini dilaksanakannya dari subuh sampai senja hari hingga akhir hayatnya, yaitu pada minggu keenam.

Ketika masih berperan sebagai pelayan rumah, lebah pekerja ini sangat ahli dalam hal memelihara telur (larva). Mereka yang secara instingtif menentukan perlunya ratu baru, yakni dengan cara memberikan kepada larva tertentu Royal jelly lebih banyak dari pada larva lainnya.

Ketika ratu yang pertama menetas, mereka akan membunuh semua bakal ratu lainnya dengan cara disengat. Apabila dua calon ratu lahir secara bersamaan, maka mereka akan bertempur sampai salah satunya mati. Setelah ratu baru lahir, ratu yang lama akan pindah dan membuat sarang baru, sehingga tidak ada dua ratu dalam satu sarang.

Urusan membuat madu, hanya lebah ahlinya. Manusia pernah mencoba untuk membuat madu buatan namun ternyata usaha itu gagal total. Ketika lebah pekerja memperoleh nektar dari bunga dan kemudian menelannya ke dalam perut, maka penyerapan nektar dimulai dan satu enzim ditambahkan.

Saat lebah kembali ke sarang, lebah pengumpul akan memuntahkan campuran nektar tersebut dan diterima oleh lebah penerima. Lebah penerima akan mengunyah dan berkali-kali membuka mulutnyaagar campuran nektar tersebut terkena udara. Proses ini dapat berlangsung selama 20 menit. Setelah itu, bahan dimasukkan ke lubang-lubang sarang dan dibiarkan sampai menjadi kental, itulah madu.

Diperkirakan bahwa lebah madu harus mengumpulkan nektar dari dua juta bunga untuk menhasilkan satu pon madu. Untuk jumlah madu yang sama, jarak yang ditempuh oleh sekian banyak lebah pekerja berkisar pada angka 55.000 mil. Dan sepanjang hdupnya, seekor lebah pekerja hanya menghasilkan 1 ½ sendok teh madu.

B. Pekerjaan mengumpulkan madu.

Dalam surah an-Nahl : 69, al-Qur’an berbicara/ menjelaskan bagaimana lebah memanen nektar dari bunga. Potongan kalimat “lalu tempuhlan jalan-jalan Tuhan-mu yang telah dimudahkan (bagi mu)” memperlihatkan kepada kita bahwa apa yang dilakukan oleh lebah adalah semata-mata atas petunjuk Allah. Artinya, Allah lah yang menginspirasikan (memberikan insting) kepada lebah, kemana dan bagaimana lebah mendapatkan makanannya.

Salah satu aspek paling mengagumkan dari kehidupan lebah madu adalah cara mereka mengumpulkan nektar dan memprosesnya menjadi madu. Berdasarkan perhitungan, lebah membutuhkan 10 kali perjalanan pulang pergi dari sarang ke lokasi bunga penghasil nektar untuk menhasilkan 1 pon madu.

Suatu hal yang mengherankan adalah bagaimana lebah kecil dapat menemukan tempat yang penuh bunga di hamparan bumi yang luas ini dengan mudah dan tepat. Ternyata ada suatu proses indah yang berlansung disini. Sistem ini dikenal dengan sebutan “tarian lebah”. Tarian ini ibarat bahasa bagi manusia. Kejadian ini benar-benar merupakan mukjizat dari alam. Pada awalnya, lebah pencari ladang bunga akan keluar dari sarang untuk mencari tempat yang dibutuhkan.

Dapat kita bayangkan seandainya sistem pendelegasian (utusan) ini tidak ada, maka sekitar 50-60 ribu lebah akan serentak keluar, dan masing-masing akan mencari ladang untuk memperoleh nektar bunga, tentu ini merupakan suatu proses yang menghabiskan banyak energi.

Melalui sistem pendelegasian, beberapa ekor lebah pekerja berperan sebagai lebah pencari ladang bunga. Mereka akan terbang hingga 5 mil dari sarangnya untuk tugas itu. Namun, umumnya mereka akan menemukan ladang bunga yang baik 1 mil jauhnya dari sarang. Ladang ini biasanya menghasilkan nektar untuk dua sampai tiga hari saja, lalu mereka akan mencari ladang bunga yang baru.

Setelah para utusan menemukan ladang bunga yang baik, mereka akan mengumpulkan nektar dan kembali ke sarang. Di sarang, mereka akan menunjukkan apa yang mereka temui kepada teman-temannya. Nektar yang mereka bawa akan diberikan kepada lebah pekerja yang bertugas menerima nektar dan mengolahnya menjadi madu.

Apabila nektar ini diterima dengan tidak bersemangat, maka itu berarti bahwa nektar tersebut tidak cukup berkualitas. Hal ini akan memaksa lebah pencari untuk kembali terbang mencari ladang bunga yang lain. Namun sebaliknya, bila nektar tersebut diterima dengan semangat, maka lelah pencari akan melanjutkan “tariannya”.

Lebah pencari akan mengajak lebah pekerja lainnya ke ladang bunga temuannya. Ia akan mulai melakukan ‘tarian” kompleks tapi mudah diterima oleh koloninya. “Tarian" di depan koloninya ini menjelaskan arah, jarak, jumlah dan kualitas nektar di ladang bunga yang ditemukannya.

Apabila lokasi ladang bunga itu berjarak kurang dari 80 kaki, maka lebah akan melakukan aksi jalan cepat dan membentuk lingkaran. Bila jaraknya lebih dari 300 kaki maka lebah akan mengibaskan ekornya sambil berjalan membentuk angka 8. Gerakan mengibas ini menunjukkan arah dan jarak ladang bunga. Semua gerakan ini dilakukan dengan mempertimbangkan posisi matahari pada saat itu.

Tarian semacam ini juga mereka peragakan dalam proses pencarian sumber air pada musim kemarau. Air yang ditemukan lebah pekerja, akan dibawa pulang ke sarang, didistribusikan ke lubang-lubang sarang dan dikipasi. Ini bertujuan untuk mendinginkan air. Proses pengipasan ini berjalan dengan sangat optimal. Betapa tidak, ketika suhu udara mencapai 130° F, pengipasan ini dapat menurunkan suhu sarang hingga mencapai suhu 90° F.

Tarian juga dilakukan saat terjadi pemecahan kelompok. Sebelum kelompok yang memisahkan diri pindah dari sarang utama, dibentuklah tim pencari lokasi sarang yang baru untuk menghindari resiko hilangnya ratu yang dibawa terbang kesana kemari dalam proses pencarian itu.

Sungguh suatu hal yang sangat luar biasa. Maha benar Allah dengan segala firmannya. Dan al-Qur’an sudah menceritakan semua itu. Kita dapat mengambil hikmah dari kehidupan lebah ini, silahkan baca artikel dengan judul “Mengambil Hikmah dari Rumah Lebah dan Rumah Laba-laba”,

Berlangganan update artikel terbaru via email:

"Al-Qur'an Berbicara Mengenai Lebah"

Post a Comment

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan artikel di atas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel