Gunung-gunung sebagai Pasak pengokoh bagi bumi

(kajian hadits)

Apakah Benar Bahwa Gunung Itu Pasak bagi Bumi?


Sahabat yang berbahagia.

kita kembali mencoba mengulas suatu hadits Nabi Muhammad Saw yang berbicara mengenai isyarat sains. Hadits tersebut sebagai berikut :

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya. katanya :
Kami mendapati hadits dari Muhammad bin Basysyar, dari Yazid bin Haru, dari al-Awwam bin hausyab, dari Sulaiman bin Abu Sulaiman dari Anas bin malik dari nabi Muhammad Saw, beliau bersabda :

"Begitu Allah selesai menciptakan bumi, bumi itu bergoyang-goyang, maka Allah segera menciptakan gunung-gunung dan berfirman kepada gunung-gunung tersebut, "Jadilah dan menetaplah di atasnya", lalu bumi pun menjadi tenang. Para malaikat takjub dengan kehebatan gunung dan berkata "Ya Allah, apakah ada diantara makhluk Mu yang lebih hebat dari gunung?
Allah menjawab : ada, yaitu api.

Malaikat bertanya lagi : apakah ada diantara makhluk-Mu yang lebih hebat dari api? Allah menjawab, ada yaitu air. Malaikat kembali bertanya, adakah ada diantara makhluk-Mu yang lebih hebat dari air? Allah menjawab, ada, yaitu angin, Malaikat kembali bertanya, adakah yang lebih hebat dari angin? Allah menjawab, ada, yaitu anak keturunan Adam (manusia) yang memberikan sedekah dengan tangan kanannya sambil menyembunyikan dari tangan kiri.

Imam at-Tirmidzi mengatakan : "hadits ini adalah gharib yang tidak kami ketahui status marfu' nya kecuali dari jalur periwayatan ini".


Sahabat yang berbahagia.

Secara tekstual, hadits ini memberikan pelajaran bahwa manusia bisa menjadi lebih mulia dari semua makhluk Allah yang lain, jika kita bersedekah dengan tidak bermaksud untuk riya' (pamer).
Namun disamping itu akan lebih menarik jika kita juga berusaha memahami hadits ini dari sisi kajian ilmiahnya.

Hadits ini sejalan dengan ayat al-Qur'an surah an-Nazi'at : 32-33
dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

Isyarat ini terulang dalam sembilan ayat lainnya, seperti pada surah ar-Ra'du : 3, al-Hijr : 19, an-nahl : 15, al-Anbiya' : 31, an-Naml : 61, Luqman : 10, Fushshilat : 10, Qaf : 10 dan Mursalat : 27.

Para ilmuwan banyak berbeda pendapat dalam memahami peran gunung-gunung dalam mengokohkan bumi. sebab, kendati total keseluruhan massa gunung di atas permukaan bumi sangat besar, ia tetap tidak sebanding dengan massa bumi secara keseluruhan yang bobotnya mencapai kira-kira 1 miliar triliun ton.

Begitu juga ketinggian gunung, meski menjulang, ia tetap tidak sebanding dengan panjang jari-jari (diameter) lingkaran bumi. sebab, selisih antara ketinggian puncak gunung yang tertinggi di dunia (mount everest dengan ketinggian 8.848 M) dengan kedalaman palung yang paling dalam (yaitu palung mariyana di dekat kepulauan Filipina dengan kedalaman sekitar 11 KM) sangat tidak sebanding, padahal radius khatulistiwa bumi mencapai 6378,160 KM.

Dari situ tampak kemungilan kecekungan dan kecembungan bumi jika dibandingkan dengan radiusnya, dan persentasenya pun tidak lebih dari 0,3 % dari total radius bumi.

Dari sini muncul pertanyaan yang menggoda akal, bagaimana mungkin gunung mampu menstabilkan bumi sementara bobot massa dan dimensinya begitu kecil jika dibandingkan dengan massa dan dimensi bumi?

Pertanyaan ini baru dapat dijawab pada pertengahan tahun 60-an abad ke-20 ketika hasil penelitian berhasil menemukan bahwa kerak bebatuan bumi terpecah oleh jaring retak yang membentang puluhan ribu kilometer dan yang mengelilingi bumi ini secara keseluruhan dengan kedalaman yang berkisar 65 s/d 150 KM.

Hal ini mengakibatkan terpecahnya bebatuan bumi menjadi sejumlah lempengan bebatuan yang terpisah satu sama lain dengan tingkat perpecahan masing-masing. Lempengan-lempengan kerak bebatuan bumi ini mengapung di atas lapisan elastis bumi yang semi cair dan memiliki tingkat kepadatan dan kelekatan yang tinggi yang disebut "Lapisan Lunak Bumi".
Silahkan baca artikel tentang "Tujuh Lapis Bumi"

Pada lapisan lunak ini, arus panas yang bergerak seperti kumparan yang berputar yang sangat kuat mengaktifkan arus-arus pembawa yang mendorong lempengan-lempengan kerak bebatuan bumi untuk menjauh satu sama lain atau berbenturan satu sma lain dengan kecepatan luar biasa yang membuatnya tidak layak dihuni oleh makhluk hidup apa pun.

Tidak ada yang mampu menenangkan dan menghentikan gerakan-gerakan liar lempengan kerak bebatuan bumi ini selain terbentuknya rangkaian-rangkaian pegunungan selama berfase-fase hingga mencapai fase final yang ditandai dengan digunakannya kedalaman samudera yang memiashkan antara dua benua yang saling berjauhan secara penuh.

Yaitu dengan mendorong salah satu benua pada kedalaman tersebut di bawah benua yang lain, sehingga kedua benua bertabrakan dan menekan bebatuan yang menggumpal diantara keduanya dalam bentuk rangkaian pegunungan besar yang membentangkan pasak-pasaknya untuk mengokohkan salah satu benua dengan bebatuan yang lain.

Pasak pegunungan juga mengokohkan penopang-penopang yang terpancang di bumi sebagaimana yang terjadi dengan pergeseran ke arah benua Asia, sehingga kedua benua (India dan asia) pun bertabrakan dan menghasilkan terbentuknya pegunungan Himalaya sebagai rangkaian pegunungan yang terbaru di muka bumi sekaligus yang paling tinggi.

Proses di atas merupakan proses pengokohan massa benua-benua di atas permukaan bumi, sementara mengenai proses pengokohan bumi sebagai planet, sudah diketahui adanya bahwa akibat perputaran bumi pada porosnya, bentuk bumi berubah dari bulat sempurna menjadi elips. Kawasan di garis khatulistiwa bumi agak cembung sedangkan kawasan di dua kutub agak datar. Kecembungan garis khatulistiwa ini membuat poros putarannya menjadi lambat dan dikenal dengan istilah badariyyah.

Dalam kondisi demikian, poros bumi bergoyang-goyang dan bergerak-gerak dengan gerakan yang berlawanan dengan gerakan bulan dan matahari, juga dengan benda-benda yang bergerak secara konstan da;lam takaran dan arah kekuatan yang sama cepat.

Gerakan yang cenderung liar ini diperkecil oleh keberadaan gunung-gunung yang memiliki akar yang menancap di kerak bebatuan bumi yang bentangan kedalamannya mencapai 10 hingga 15 kali lipat ketinggiannya di atas permukaan bumi.

Keberadaan gunung-gunung ini meminimalisir keliaran gerakan atau goyangan poros putar bumi dan menjadikannya lebih stabil dan lebih teratur dalam proses rotasinya mengelilingi porosnya, juga menjadikan goyangan dan gocangannya lebih rendah. persis seperti seperti apa yang dilakukan ruas-ruas timah di sekitar ban mobil yang memperkecil goncangan dan goyangan ban selama ban berputar.

Dari sini terlihat jelas suatu bentuk mukjizat saintis dalam hadits Nabi Muhammad Saw sebagai hadits di awal tadi. Semoga kajian singkat ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat menambah keimanan kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Responses to "Gunung-gunung sebagai Pasak pengokoh bagi bumi "

  1. Ini semakin menambah keimanan kita bahwa manusia hanya mahkluk lemah.

    ReplyDelete
  2. @Kang Jumanto
    iya kang, ternyata apa yang ilmuwan temukan sekarang sudah terlebih dahulu di isyaratkan oleh Nabi Muhammad Saw

    ReplyDelete

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan artikel di atas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel