Khutbah Idul Fitri 1447 H; Hakikat Kebahagiaan, Meraih Hikmah dari Ibadah Puasa
KHUTBAH IDUL FITRI 1447 H
HAKIKAT KEBAHAGIAAN, MERAIH HIKMAH DARI IBADAH PUASA
Oleh: Abdul Kholis bin Muhammad Amin bin Zainuddin
السلام عليكم ورحمة الله وبر كاته
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ ... اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيآ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ رَحِمَكُمْ اللهُ، أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، وَعِيْدٌ كَرِيْمٌ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، فَهُوَ يَوْمُ تَسْبِيْحٍ وَتَحْمِيْدٍ وَتَهْلِيْلٍ وَتَعْظِيْمٍ ، فَسَبِّحُوْا رَبَّكُمْ فِيْهِ وَعَظِّمُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هو الْغَفُوْرُ الرَّحِيمُ.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ
Rasanya baru kemarin kita menyambut datangnya bulan ramadhan yang mulia, bak seorang tamu yang datang dengan membawa banyak keberkahan, hari ini tamu itu telah pergi. Tamu itu pasti akan datang lagi di tahun yang akan datang, namun apakah akan berjumpa dengan kita atau tidak, wallahu a’lam.
Beruntunglah orang yang memperlakukan tamu itu dengan baik, dan merugilah orang yang mengabaikan kehadirannya.
Bersyukurlah kepada Allah karena masih dapat berjumpa dan menjalankan ibadah puasa ramadhan tahun ini. Berapa banyak orang yang Allah panggil sebelum ramadhan menghampirinya. Bersyukurlah hari ini kita masih dapat merayakan idul fitri bersama keluarga tercinta. Berapa banyak orang yang tidak dapat lagi berhari raya bersama orang terkasih.
Hadirin wal hadirat rohimakumullah
Sejak dari tenggelamnya matahari sore kemarin sampai pagi ini, lisan kita tidak pernah bosan apalagi letih mengucapkan takbir, tahmid dan tahlil, mengagungkan Allah. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena hati kita merasakan kegembiraan. Hati kita berbahagia. Mengapa berbahagia? Karena kita telah berhasil menjalankan perintah Allah berupa ibadah puasa sebulan ramadhan beserta amalan-amalan lainnya.
Rosulullah ﷺ bersabda:
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ
Artinya, “bagi orang-orang yang berpuasa akan meraih dua kebahagiaan, bahagia ketika berhari raya, dan bahagia ketika bertemu Tuhannya,” (HR Muslim).Hari ini kita memperolah satu kebahagiaan itu. Hari ini adalah hari raya idul fitri. Dan satu kebahagiaan lagi adalah ketika nanti kita menghadap Allah pada hari kiamat dengan membawa pahala puasa.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin wal hadirat rohimakumullahMari sejenak kita merenung. Kita kilas balik ke belakang. Apakah kita pernah memperhatikan ataupun merasakan, mengapa selama bulan ramadhan itu hati terasa lapang, pikiran tenang, perasaan senang dan berbahagia?
Insya Allah pada khutbah kali ini kita akan membahas sedikit tentang hakikat kebahagiaan.
Jama’ah yang dimuliakan Allah
Banyak orang merasa kesulitan untuk merasakan bahagia sehingga berupaya mencari cara untuk mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup.
Ada yang sibuk mencari di google tips-tips hidup bahagia. Ada yang mengikuti seminar kebahagiaan namun tidak juga kunjung merasa bahagia. Padahal, kebahagiaan dan ketenangan hidup adalah kebutuhan bagi semua orang.
Orang terkadang salah menduga. Mereka mengira bahwa kebahagiaan itu didapat jika memiliki banyak harta. Mereka mengira bahwa mereka akan bahagia jika menjadi orang terkenal. Mereka mengira bahwa mereka akan bahagia jika mendapatkan kekuasaan.
Sehingga tidak heran jika manusia berlomba-lomba dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua itu. Padahal, kebahagiaan yang berasal dari harta, popularitas, kekuasaan dan lain sebagainya itu merupakan kebahagiaan semu dan sementara.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Kita mungkin pernah menjumpai, ada orang yang kelihatannya telah mencapai puncak kesuksesan, karir kerja mentereng, namun kenyataannya bathinnya penuh dengan duka.Ada juga orang yang kelihatannya hidupnya bahagia, hidup dalam kemewahan harta namun kenyataannya hatinya menyimpan kegelisahan, rumah tangga berantakan lalu menjadikan kemaksiatan sebagai pelarian.
Terlalu seringlah kita mendengar berita kehidupan publik figur yang mengalami depresi bahkan sampai over dosis. Kalau memang kebahagiaan itu bersumber dari kemewahan materi, mengapa hidup mereka harus berakhir tragis.
Kebalikan dari itu, ada orang yang kehidupannya penuh kesederhanaan, namun hatinya dipenuhi ketenangan dan kebahagiaan. Dia mungkin tidak memiliki jabatan apa-apa, namun dari raut wajahnya memancarkan keteduhan. Dia mungkin tidak bergelimang harta, namun hidupnya bersahaja. Dia mungkin tidak mengenyam pendidikan tinggi, namun rumah tangganya sakinah penuh dengan mawaddah dan rahmah.
Dari fenomena ini bisa kita simpulkan bahwa kesuksesan dalam karir, kemewahan harta dan ketenaran bukanlah standar kebahagiaan. Kebahagiaan sejati bukan berasal dari materi. Kebahagiaan sejati itu ada dalam diri kita, yaitu jiwa atau ruh. Jiwa kita-lah yang sebenarnya merasakan bahagia ataupun tidak.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin wal hadirat rohimakumullahKehidupan yang sedang kita jalani ini bagaikan musim. Ada musim hujan, ada musim kemarau. Ada saatnya kita sehat, ada pula saatnya jatuh sakit. Ada masanya kita kelimpahan rezeki, ada pula masanya kesulitan rezeki. Ada yang lahir adapula yang wafat, ada tangis ada tawa, ada suka ada duka. Semua datang silih berganti. Lalu bagaimana kita menyikapi semua ini agar hati kita selalu tenang dan berbahagia?
Jawabannya kita temukan dalam firman Allah:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ ٢٨
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ro’du: 28)
Saudaraku, inilah kata kuncinya. Yakni mengingat Allah. Sebanyak lima kali dalam sehari, Allah SWT, Tuhan Yang Maha Segalanya memanggil kita selaku hamba-Nya untuk datang menemui-Nya. Dia yang Maha Mulia menunggu kita hamba-hamba-Nya yang hina ini untuk datang mengadu dan meminta apa saja yang kita butuhkan.
Allah berfirman :
إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ ١٤
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (surah Thaha ayat 14)Namun apakah hati kita tergerak untuk memenuhi panggilan itu? Kalaupun datang, kita datang dengan perasaan berat dan bermalas-malasan. Padahal permasalahan yang kita hadapi dalam menjalani kehidupan ini luar biasa banyak. Kita sombong, seakan-akan tidak membutuhkan pertolongan-Nya.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin wal hadirat rohimakumullahSesungguhnya orang yang paling berbahagia di atas muka bumi ini adalah orang-orang yang tertanam dalam hatinya keimanan yang kuat kepada Allah SWT. Keimanan yang menuntunnya untuk terus berharap kepada Allah. Keimanan yang membuat dirinya tidak berputus asa dari rahmat Allah. Keimanan yang menumbuhkan keyakinan akan pertolongan dari Allah. Keimanan yang menggerakkan hati untuk menunaikan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Jama’ah yang dimuliakan Allah
Orang yang hatinya dipenuhi dengan iman, tidak akan merasakan lagi perbedaan antara nikmat dengan musibah, semua diterima dengan penuh rasa syukur dan lapang dada. Ketika mendapat musibah, lisannya berkata Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Ketika mendapat nikmat, lisannya berkata alhamdulillah, karena sesungguhnya, baik dan buruk, sedih dan bahagia, semua itu tergantung pada bagaimana kita menyikapinya. Kalau sudah begini, tidak ada lagi tempat untuk kegelisahan dan kesedihan dalam diri kita.
Kita ambil contoh. Misalkan ada dua orang yang satunya kuat imannya dan yang satu lagi kurang kuat imannya. Dua orang ini memandang kepada satu gelas air yang isinya hanya setengah.
Orang yang imannya kuat, ketika melihat air dalam gelas itu hanya berisi setengah akan berkata, alhamdulillah airnya masih ada setengah gelas, masih bisa untuk minum. Ia tetap bersyukur dan berprasangka baik.
Sebaliknya, orang yang imannya kurang kuat, biasanya cenderung memandang sesuatu itu dengan berprasangka buruk. Alih-alih mengucapkan alhamdulillah, malah ia akan menggerutu dan berkata, mengapa air ini hanya setengah gelas, padahal saya sedang haus, mungkin ada yang menumpahkannya. Ia tidak bersyukur berprasangka buruk.
Mari kita perhatikan hadits Nabi ﷺ berikut:
Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik untuknya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin wal hadirat rohimakumullahKiranya penjelasan tadi sudah menggambarkan jawaban dari pertanyaan di awal, mengapa ketika di bulan ramadhan hati kita merasa tenang, tenteram dan berbahagia, jawabannya adalah :
Pertama : kebahagiaan yang kita rasakan itu bukan dari materi, melainkan dari ruh atau jiwa. Ruh tidak membutuhkan materi, namun ia membutuhkan ibadah kepada Allah.
Kedua : Saat berpuasa, kita berusaha untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan pahala puasa. Para psikiater menyebutkan bahwa puasa merupakan terapi terbaik untuk kesehatan jiwa.
Ketiga : Dengan berpuasa, maka hati dan pikiran akan menjadi jernih dan bersih. Hati dan pikiran akan terpusat untuk selalu mengingat Allah. Sedangkan mengingat Allah adalah obat paling ampuh untuk mendapatkan ketenangan sebagaimana firman Allah dalam surah ar-Ra’du ayat 28 yang sudah dibacakan tadi.
Keempat : Selama bulan ramadhan, iman kita sedang dipupuk oleh ibadah-ibadah, yang wajib maupun yang sunnah. Iman kita tumbuh subur. Sesungguhnya iman itu bisa bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan dan berkurang karena maksiat. Dengan ketaatan, ruh merasakan ketenangan. Sebaliknya, dengan maksiat, ruh akan merasa tersiksa.
الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Hadirin wal hadirat rohimakumullahIbadah puasa mengajarkan kepada kita bahwa setelah kesulitan itu ada kemudahan. Ibadah puasa adalah ibadah yang cukup berat untuk dijalankan. Sejak terbit fajar sampai terbenam matahari, kita menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa. Berat memang, namun tetap kita jalani. Mengapa? Karena kita meyakini bahwa ada waktunya nanti untuk berbuka. Artinya, walaupun saat ini ada permasalahan yang sedang dihadapi, namun kita meyakini bahwa semua ini pasti akan berlalu.
Orang-orang yang beriman ketika ada masalah dalam hidupnya, ia akan mengadu kepada Allah. Sebaliknya, orang yang jauh dari Allah, ketika ada masalah, ia mengadukan persoalannya kepada manusia, curhat di sosial media bahkan menjadikan obat-obatan terlarang sebagai pelarian.
Oleh karenanya, jika kita ingin terus merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam menjalani kehidupan ini, maka nilai-nilai mulia selama bulan ramadhan kemarin, harus selalu kita jaga. Berzikirlah kepada Allah dalam setiap kesempatan dan keadaan. Selalu berbaik sangka kepada Allah. Bersabar jika mendapat musibah dan bersyukur jika mendapat nikmat.
Bertaqwalah kepada Allah di manapun kita berada. Sesungguhnya ketaqwaan itu adalah obat stres paling mujarab. Stres itu terjadi karena ada persoalan namun tidak ada solusi. Dengan bertaqwa, maka Allah akan memberikan solusi.
Firman Allah dalam surah at-Thalaq
ۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar (solusi). Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.Jama’ah yang dimuliakan Allah.
Satu kalimat dari saya sebagai penutup khutbah ini. “hiduplah di hari ini, jangan hidup di masa lalu dan masa yang akan datang. Hari ini adalah keniscayaan, hari kemarin adalah kenangan, hari esok adalah angan-angan”.
Maknanya adalah, nikmati apa yang sudah didapatkan, ikhlaskan apa yang sudah terjadi dan jangan terlalu cemas terhadap apa yang akan terjadi esok hari. Maka kamu akan berbahagia.
Semoga bermanfaat. Selamat hari raya ‘Idul Fitri 1447 Hijriyah, taqobbalallahu minna waminkum. Mohon maaf lahir dan bathin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KE 2
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ.
الحَمْدُللهِ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَه وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَحَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَه. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نبَيَّ بَعْدَه.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ وأَنْعِمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ.
اَمَّا بَعْدُ فَيَا عِباَدَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa tahun ini sebagai yang terakhir dalam hidup kami. Pertemukan kembali kami dengan ramadhan yang akan datang. Seandainya Engkau berkehendak sebaliknya, maka jadikanlah puasa kami ini sebagai puasa yang dirahmati bukan yang tertolak.
Ya Allah, jika rezeki kami masih di langit-Mu maka turunkanlah, jika rezeki kami masih di dalam bumi-Mu maka keluarkanlah, jika rezeki kami masih jauh maka dekatkanlah, jika rezeki kami sedikit maka perbanyaklah, jika haram maka bersihkanlah, jika jalan rezeki kami masih sulit maka permudahkanlah.
Ya Allah Ya Rohim. Kabulkanlah permohonan orang-orang kecil bangsa kami yang merindukan ketenangan, keamanan dan kemakmuran. Jangan Engkau timpakan azab kepada kami hanya karena kedurhakaan segelintir orang di antara kami. Jadikanlah negeri kami ini negeri yang aman, damai dan sejahtera.
يا الله يا غفار, ampunilah segala dosa dan kesalahan ibu bapak kami. Kasihanilah mereka melebihi kasih sayang mereka kepada kami ketika kami masih kecil. Untuk orang tua kami yang saat ini masih ada bersama kami, panjangkan umur mereka, sehatkan badannya dalam rangka untuk taat kepada Mu.
Untuk orang tua kami yang telah engkau panggil ya Allah, ampuni dan rahmatilah mereka, lapangkan kuburnya, jadikan kubur mereka sebagai taman dari taman-taman surga. Jauhkan mereka dari azab kubur. Terimalah segala amal ibadah mereka.
اللهم يا مجيب دعوة المضطر اذادعاك نسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك والعزيمة على الرشد والغنيمة من كل بر والسلا مة من كل اثم والفوز بالجنة والنجاة من النار
ربنا تقبل منا انك انت السميع العليم وتب علينا انك انت التواب الرحيم.
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ., والحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبر كاته
Khutbah dalam format Pdf, silahkan unduh di bawah
Posting Komentar untuk "Khutbah Idul Fitri 1447 H; Hakikat Kebahagiaan, Meraih Hikmah dari Ibadah Puasa"
Saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan artikel di atas.