Khutbah Jum'at : Memakmurkan Masjid

Muqaddimah silahkan ditambahkan sendiri

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Mengawali khutbah kita kali ini, saya akan bacakan firman Allah Swt dalam surah at-Taubah: 18

إِنَّمَا يَعۡمُرُ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَلَمۡ يَخۡشَ إِلَّا ٱللَّهَۖ فَعَسَىٰٓ أُوْلَٰٓئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ ٱلۡمُهۡتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Hadirin ………….

Apa yang terbayang dalam benak kita dalam memahami ayat tadi? Yakni bahwa Allah swt menjelaskan bahwa orang yang memakmurkan masjid itu berarti dia adalah orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, sebab kalau tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak mungkin tergerak hatinya untuk memakmurkan masjid.

Hadirin…………

Kita jelaskan dulu apa itu masjid. Masjid ( مَسْجِد ) berasal dari kata ( سَجَدَ – يَسْجُدُ – سُجُودًا , artinya bersujud) –dengan kasroh pada huruf jim- dalam bahasa Arab adalah isim makan (kata keterangan tempat) yang menyelisihi timbangan aslinya yaitu ( مَسْجَد ) –dengan fathah pada huruf jim-. Maka arti kata ( مَسْجِد ) adalah tempat bersujud, dan bentuk jamaknya adalah ( مَسَاجِد ).

Adapun menurut istilah, yang dimaksud masjid adalah suatu bangunan yang memiliki batas-batas tertentu yang didirikan untuk tujuan beribadah kepada Allah seperti shalat, dzikir, membaca al-Qur’an dan ibadah lainnya.

Dan lebih khusus lagi yang dimaksud masjid di sini adalah tempat didirikannya shalat berjama’ah, baik ditegakkan di dalamnya shalat jum’at maupun tidak.

Allah berfirman:

وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا

Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. al-Jin:18)

Adapun kata “memakmurkan” adalah salah satu arti dari sebuah kata dalam bahasa Arab yaitu ( عَمَرَ – يَعْمُرُ -عِمَارَةً ) yang juga memiliki banyak arti lain di antaranya: menghuni (mendiami), menetapi, menyembah, mengabdi (berbakti), membangun (mendirikan), mengisi, memperbaiki, mencukupi, menghidupkan, menghormati dan memelihara.

Dengan demikian, yang dimaksud "Memakmurkan Masjid" adalah membangun dan mendirikan masjid, mengisi dan menghidupkannya dengan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta'ala, menghormati dan memeliharanya dengan cara membersihkannya dari kotoran-kotoran dan sampah serta memberinya wewangian.

Allah. Swt menyifati orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid-Nya sebagai orang-orang mukmin, sebagaimana yang tersebut dalam surah at-Taubah:18 di awal tadi.

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

إذا رأيتم الرجل يعتاد المساجد فاشهدوا له بالإيمان، قال الله عز وجل { إنما يعمر مساجد الله من آمن بالله واليوم الآخر . . الآية } رواه الترمذي وقال : حديث حسن

“Jika kamu melihat orang rajin mendatangi masjid, maka persaksikanlah ia sebagai orang yang beriman.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi)

Jadi, semua bentuk ketaatan apapun yang dilakukan di dalam masjid atau terkait dengan masjid maka hal itu termasuk bentuk memakmurkannya.

Hadirin ………..

Kita uraikan sedikit bentuk-bentuk perbuatan yang termasuk pada perbuatan memakmurkan masjid.

1. Membangun/ mendirikan masjid

Membangun masjid memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana disabdakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم,

مَنْ بَنَى مَسْجِداً يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ مِثْلَهُ فِي الْجَنَّةِ وفي رواية لمسلم: بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa membangun masjid –karena mengharap wajah Allah- maka Allah akan membangunkan untuknya yang semisalnya di dalam syurga.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan dalam riwayat Muslim disebutkan dengan lafal: “rumah di dalam syurga”.

Namun keutamaan tersebut hanya bisa dicapai dengan ikhlas semata-mata karena Allah dan mengharap wajah Allah sebagaimana teks hadits di atas. Meskipun masjid yang dibangun itu berukuran kecil, karena dalam hadits yang lain Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

مَنْ بَنَى ِللهِ مَسْجِداً وَلَوْ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتاً فِي الْجَنَّةِ

“Barangsiapa membangun sebuah masjid karena/untuk Allah walau seukuran sarang (kandang) burung atau lebih kecil dari itu, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di dalam syurga.” (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi).

Membangun yang dimaksud di sini bukan terbatas pada makna kita membangun dari nol, namun kita menginfaqkan sebagain dari rizki kita untuk pembangunan ataupun renovasi juga sudah termasuk dari kata membangun.

Demikian juga kita infaqkan rezeki kita untuk pembelian tanah yang nantinya tanah tersebut digunakan untuk membangun masjid juga termasuk dalam makna hadits tadi. Ini bisa kita fahami dari kalimat “walau seukuran sarang (kandang) burung atau lebih kecil dari itu”.

Dan membangun masjid tentu saja dengan niat untuk memakmurkannya dengan cara melaksanakan sholat berjama’ah dengan jama’ah yang banyak serta mengadakan kajian al-qur’an dan hadits.

Namun memang kondisi yang ada sekarang, ummat Islam hanya semangat dalam membangun tetapi tidak semangat dalam memakmurkan masjid. Dan Rasulullah صلى الله عليه وسلم sudah mengingatkan kepada kita dalam haditsnya :

لا تقوم الساعة حتى يتباهى الناس في المساجد

“Tidaklah kiamat akan tegak sehingga manusia berbangga-banggaan dalam (membangun) masjid-masjid.” (HR. Ahmad, Abu Daud Ibnu Majah dan yang lainnya).

2. Membersihkannya dan memberinya wewangian

Hal itu telah diperintahkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah – رضي الله عنها -,
“Rasulullah صلى الله عليه وسلم memerintahkan untuk membangun masjid-masjid di perkampungan-perkampungan, (lalu) dibersihkan dan diberi wewangian.”

3. Dzikrullah, shalat dan tilawah al-Qur’an

Perkara-perkara ini merupakan yang terpokok dari tujuan dibangunnya masjid, yakni sebagai tempat ibadah seperti sholat dan zikir, membaca dan mengkaji al-Qur’an maupun hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Hadirin ……………

Allah mencela orang-orang yang menghalang-halangi manusia dari menyebut nama Allah di dalam masjid-masjid-Nya, Allah menyebut mereka sebagai orang-orang yang paling aniaya. Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah:114

وَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ أَن يُذۡكَرَ فِيهَا ٱسۡمُهُۥ وَسَعَىٰ فِي خَرَابِهَآۚ أُوْلَٰٓئِكَ مَا كَانَ لَهُمۡ أَن يَدۡخُلُوهَآ إِلَّا خَآئِفِينَۚ لَهُمۡ فِي ٱلدُّنۡيَا خِزۡيٞ وَلَهُمۡ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٞ

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

Maknanya bahwa orang-orang yang menghidupkan masjid-masjid dengan dzikrullah merupakan sebaik-baik amal. Sedangkan shalat, khususnya shalat fardhu berjama’ah di dalam masjid memiliki keutamaan yang besar.

Banyak hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang menjelaskan tentang sholat berjama’ah, diantaranya :

من توضأ للصلاة، فأسبغ الوضوء، ثم مشى إلى الصلاة المكتوبة، فصلاها مع الناس –أي: مع الجماعة في المسجد-؛ غفر الله له ذنوبه

“Barangsiapa berwudhu untuk shalat, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian berjalan menuju shalat fardhu, lalu dia shalat bersama manusia –yakni bersama jama’ah di masjid-, niscaya Allah ampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim)

Apalagi shalat berjama’ah itu pahalanya berlipat ganda, dua puluh lima atau dua puluh tujuh kali, dibandingkan dengan shalat bersendiri. Sebagaimana dalam sabda Nabi صلى الله عليه وسلم,

(( صلاة الجماعة تفضل من صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة ))

“Shalat berjama’ah itu lebih baik 27 derajat daripada shalat bersendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar – رضي الله عنهما -)

Dalam riwayat ِal-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه,

(( بخمس وعشرين درجة ))
” … 25 derajat …”

Hadits riwayat Imam Muslim dari Usman r.a., katanya: "Saya mendengar Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Barangsiapa yang mengerjakan shalat Isya' dengan berjama'ah, maka seolah-olah ia mendirikan shalat separuh malam dan barangsiapa yang mengerjakan shalat Subuh dengan berjamaah, maka seolah-olah ia mendirikan shalat semalam suntuk."

Di dalam kitab Bulughul Marom kita temukan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم yang berbunyi :

Dari Ibnu ‘Abbas. Ra dari Nabi صلى الله عليه وسلم beliau bersabda : Barang siapa mendengar azan lalu tidak datang (ke masjid) maka sholatnya tidak sempurna, kecuali ada udzur (HR. Ibn Majah, Daruquthni, Ibnu Hibban, Hakim)

Juga hadits Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Andaikata para manusia itu mengetahui betapa besar pahalanya mengerjakan shalat Isya' dan Subuh -dengan berjamaah-, sesungguhnya mereka akan mendatangi kedua shalat itu, sekalipun dengan berjalan merangkak." (Muttafaq 'alaih)

Dan hadits yang lebih keras lagi, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

Dari Abu Hurairah r.a., bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: "Demi Zat yang jiwaku ada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku ingin menyuruh supaya diambilkan kayu bakar, lalu dicarikanlah kayu bakar itu, kemudian aku menyuruh supaya shalat dilakukan dengan dibunyikan adzan dahulu untuk shalat tadi, selanjutnya aku menyuruh seorang lelaki untuk menjadi imam dalam shalat jama'ah itu, seterusnya aku datangi rumah orang-orang lelaki yang tidak ikut berjama'ah untuk saya bakar saja rumah-rumah mereka itu." (Muttafaq 'alaih)

Hadirin ……

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat menganjurkan ummatnya untuk selalu mendatangi masjid-masjid, dan seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, rindu untuk selalu datang ke masjid (yakni selalu menjaga waktu-waktu shalat secara berjama’ah di masjid) maka orang itu termasuk diantara tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari tiada naungan selain naungan-Nya.

Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

سبعة يظلهم الله في ظله يوم لا ظل إلا ظله : … وفيه (( ورجل قلبه معلق بالمسجد إذا خرج منه حتى يعود إليه

“Ada tujuh golongan yang akan Allah naungi mereka pada hari tiada naungan selain naungan Allah yaitu: … -diantaranya-: “dan seorang yang terikat (hatinya) dengan masjid ketika ia keluar hingga ia kembali ke masjid …” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه)

Dan seorang yang pergi ke masjid pagi atau petang akan memperoleh pahala yang besar. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

(( من غدا إلى المسجد و راح أعد الله له نزلا من الجنة كلما غدا و راح )).

“Barangsiapa pergi pagi hari ke masjid, atau petang hari, akan Allah sediakan untuknya tempat di syurga setiap kali dia pergi (pagi atau petang hari).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه).

Dalam hadits lainnya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

(( ألا أدلكم على ما يمحو الله به الخطايا و يرفع به الدرجات ؟ إسباغ الوضوء على المكاره و كثرة الخطا إلى المساجد و انتظار الصلاة بعد الصلاة فذلكم الرباط فذلكم الرباط فذلكم الرباط )).

“Tidakkah kamu mau aku tunjukkan apa yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? Yakni menyempurnakan wudhu' dalam keadaan yang berat, memperbanyak langkah ke masjid dan menanti shalat setelah shalat. Itulah penjagaan sesungguhnya, itulah penjagaan sesungguhnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه).

Dan masih banyak lagi keutamaan yang lain terkait dengan shalat berjama’ah di masjid.

Adapun membaca al-Qur’an dan mempelajarinya bersama-sama di dalam masjid juga telah disebutkan keutamaannya oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam sabdanya:

(( … وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده … ))

” … dan tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya di antara mereka melainkan akan turun ketentraman kepada mereka, rahmat akan menyelimuti mereka, para malaikat menaungi mereka dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat di sisi-Nya … ” (HR. Muslim dari Abu Hurairah رضي الله عنه)

Akhirnya kita berharap semoga Allah Swt senantiasa memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita semua dan mari tanamkan niat dalam hati untuk bersemangat memakmurkan masjid, baik dengan melakukan sholat berjama’ah maupun kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya. Siapa lagi yang akan memakmurkan rumah Allah kalau bukan kita ummat Islam ini. Allah berfirman dalam surah at-Taubah : 17

مَا كَانَ لِلۡمُشۡرِكِينَ أَن يَعۡمُرُواْ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ شَٰهِدِينَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِم بِٱلۡكُفۡرِۚ أُوْلَٰٓئِكَ حَبِطَتۡ أَعۡمَٰلُهُمۡ وَفِي ٱلنَّارِ هُمۡ خَٰلِدُونَ

Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.

........ بارك الله
........ Baca juga: "Manajemen Pengelolaan Masjid yang Ideal"
bahan bacaan :
1. http://faisalchoir.blogspot.co.id
2. Kitab Bulughul Maram
3. Kitab Riadus Shalihin
3. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim

Posting Komentar untuk "Khutbah Jum'at : Memakmurkan Masjid"