Khutbah Jum'at tentang ridho

Hadirin jama’ah jum’at yang berbahagia.

Hendaklah kita tiada pernah bosan untuk bersyukur kepada Allah Swt, karena betapa banyak nikmat-nikmat Allah yang kita pakai, mulai dari kita bangun tidur sampai kita tidur kembali, bahkan tidur itu sendiri merupakan nikmat, karena jika kita bersyukur maka Allah akan menambah kenikmatan itu, tapi jika kita ingkar, ingatlah bahwa sesungguhnya azab Allah itu sangat pedih..

Rasa syukur kepada Allah itu kita wujudkan dalam sikap dan perbuatan dengan memperbanyak amal ibadah serta menjauhi segala larangan-larangan Allah, atau yang lebih dikenal dengan kata taqwa. Taqwa dapat diartikan dengan rasa takut yang tumbuh dari hati, yaitu takut jika kita melanggar apa yang sudah dilarang oleh Allah dan takut jika meninggalkan segala yang diperintahkan oleh Allah Swt.

Hadirin yang berbahagia

Pada kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan firman Allah dalam Q.s al-Fajr : 27-30

Hai jiwa yang tenang Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syurga-Ku”.

Hadirin yang berbahagia.

Perjalanan hidup manusia melaju seperti roda yang berputar, terkadang diatas dan kadang kala berada dibawah. Hari-hari dalam kehidupan manusia juga dipenuhi dengan warna warni, susah senang, sedih gembira, tawa dan tangis, nikmat dan bencana senantiasa menjadi hiasan yang selalu melingkupi manusia, dalam menghadapi semua itu, manusia memiliki dua sikap yang dianjurkan dalam islam, yaitu sabar dan ridho. Sabar merupakan sikap wajib yang harus dilakukan sedangkan ridho adalah sunnah muakad yang bisa diupayakan.

Ayat yang dibacakan tadi , secara tegas melukiskan pujian Allah Swt kepada manusia-manusia yang berupaya ridho dalam menjalani kehidupan mereka. Ayat ini juga menegaskan bahwa sikap ridho merupakan salah satu syarat bagi seorang hamba agar dapat masuk surga, secara istilah, ridho adalah selalu berada dalam ikatan dinul islam seperti yang dikehendaki Allah tanpa ragu-ragu dan tanpa pengingkaran dimanapun sang hamba berada.

Yahya bin Mu’az menjelaskan sikap seorang hamba yang telah mencapai kedudukan ridho dengan ucapan “jika Engkau ya Allah memberiku, maka aku akan menerimanya, jika Engkau menahan pemberian kepadaku maka aku akan ridho, dan jika engkau membiarkanku maka aku akan tetap beribadah, jika Engkau menyeruku maka aku akan segera memenuhinya.

Hadirin….

Berbicara Tentang ridho, rasulullah Saw telah memberikan pemahaman kepada kita tentang sejauh mana cakupan sikap ridho ini, beliau bersabda “yang merasakan manisnya iman ialah orang yang ridho kepada Allah sebagai tuhannya, kepada islam sebagai agama dan kepada Muhammad Saw sebagai Rasul (HR. Muslim dan at-Tirmizi)

Dari sini dapat dimengerti bahwa pemahaman yang harus terbangun dalam diri kita ketika berbicara dan memaknai ridho adalah ridho terhadap Allah dalam artian beribadah dengan suka cita dan tidak terpaksa untuk meninggalkan perbuatan maksiat, ridho kepada Rasulullah dan menjadikannya sebagai panutan serta ridho dalam memeluk islam dan berjuang demi kejayaan islam.

Lebih lanjut Rasulullah menyebutkan bahwa manusia yang seperti ini adalah manusia yang shiddiq. Dalam sejarah kita mengetahui bahwa manusia yang diberi gelar ash-shiddiq oleh rasulullah hanyalah sayidina Abu bakar Ash-Shiddiq ra, suatu gelar yang tidak diperoleh dari Universitas manapun.

Beliau adalah manusia yang pertama dari golongan dewasa selain Khodijah ra yang membenarkan keesaan Allah swt, membenarkan kenabian Muhammad disaat orang lain menentangnya serta menjadi teman sejati bagi nabi dalam menjalani hari-hari yang melelahkan untuk mengajak manusia kepada Islam. Sejarah pun mencatat bukti kwalitas shiddiq Abu Bakar yang sangat luar biasa. Perjalanan hijrah rasulullah yang penuh rintangan dilalui bersama Abu Bakar, perjuangan menegakkan Agama islam yang berat menjadi terasa mudah tatkala Abu Bakar dengan penuh keikhlasan dan ridho menyumbangkan seluruh harta yang dimilikinya guna untuk membiayai dakwah rasul.

Hadirin……….

Sikap Abu Bakar inilah yang harus kita tanamkan saat ini, agama islam ini sedang membutuhkan orang-orang yang memiliki jiwa seperti Abu Bakar, jiwa yang rela berkorban sebagai bukti cinta dan ridhonya kepada islam, agar agama Allah ini senantiasa jaya dimuka bumi ini.

Kita dapat mencontoh dan menerapkan sikap seperti Abu Bakar tersebut, siapapun kita, apakah sebagai orang kaya ataupun orang miskin, jika sebagai orang kaya, hendaklah kita menjadi orang kaya yang darmawan, yang tidak segan-segan untuk bersedekah ataupun berzakat, orang kaya yang rela berkorban karena Allah, jika sebagai orang alim, hendaklah ikhlas karena Allah untuk mengajarkan ilmunya, jika menjadi pemimpin hendaklah menjadi pemimpin yang adil, sebagai pemuda hendaklah menjadi pemuda yang penuh semangat, terus berusaha untuk belajar mengenai islam, sehingga sejarah kelam hancurnya islam di Spanyol tidak terulang lagi, ini terjadi karena ummat sudah sibuk mementingkan diri sendiri, para pemimpinnya hanya sibuk memperkaya diri dan para pemudanya tidak peduli kepada agama nya.

Hadirin…………………..

Kita semua adalah hamba Allah. Kalimat ini harus selalu terpatri dalam jiwa dan fikiran kita. Dengan merasa sebagai seorang hamba, kita bisa membuang semua ego kita dalam menjalani kehidupan ini, terutama yang berkaitan dengan sikap hidup dalam menerima apa yang diberikan dan ditakdirkan oleh Allah kepada kita.

Jiwa penghambaan mengajarkan kita sikap pasrah, maksudnya seorang hamba senantiasa memasrahkan atau rido terhadap pilihan pihak yang dipasrahi, yakni Allah swt. Sebagai hamba Allah, kita tidak akan pernah marah dan kecewa dengan keputusan-Nya. Karena kita yakin bahwa antara nikmat dan cobaan itu sudah ditetapkan dalam qodo dan qodar Allah.

Hadirin………………..

Hasil yang paling jelas ketika seseorang telah menanamkan jiwa hamba dalam dirinya adalah kelapangan dada, berkurangnya kegelisahan, lunturnya kesombongan dan kecongkakan, tekun beribadah kepada tuhannya dengan hati yang ringan tanpa dibebani oleh beban dunia dan segala keresahannya.

Ibnu Abu Dunya mengingatkan kepada kita, yaitu “tempatkanlah dirimu bersama qodar seperti yang dikehendaki karena hal itu bisa melapangkan hatimu, dan janganlah engkau marah kepada Allah sehingga didalam dirimu tertanam kemarahan sedangkan engkau tidak menyadarinya, karena itu bisa melemparkan dirimu kedalam golongan orang-orang yang dimurkai Allah.

Hadirin………………

Ridho merupaka amalan hati sebagaimana jihad merupakan amalan anggota tubuh. Ridho merupakan puncak dari gundukan iman. Kedurhakaan terbesar yang pertama terjadi terhadap Allah bermula dari sikap tidak ridho. Iblis tidak ridho terhadap keputusan Allah yang memuliakan Adam as. Dan iblis juga tidak rodho terhadap perintah Allah untuk sujud kepada Adam sehingga menimbulkan kesombongan dalam diri iblis, dan iblis tidak ridho jika Nabi Adam berada dalam surga, dan sampai sekarang iblis terus menggoda ummat manusia karena dia tidak ridho jika kita dekat dengan Allah agar kelak menjadi teman iblis didalam neraka.

Setiap kita harus menyadari bahwa ridho Allah Swt lebih diharapkan dan lebih mulia daripada surga, sebab ridho merupakan sifat Allah sedangkan surga hanyalah ciptaan-Nya. Firman Allah dalam Q.s at-Taubah : 72

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.

Hadirin…………

Demikian Allah telah ridho kepada hamba-hamba-Nya yang sewaktu didunia ridho kepada Allah, Rasulullah dan ridho kepada Islam.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan sikap ridho didalam diri kita.

Pertama, menguatkan tawakkal.
Perlu disadari bahwa ridho merupakan akhir dari tawakkal, sehingga siapa yang pijakan kakinya mantap kepada tawakkal kepada Allah, pasrah dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, maka hal itu akan membuahkan ridho.

Syaikhul Islam ibnu taiymiyah didalm kitab Majmu’ al-Fatawa menjelaskan bahwa ridho dan tawakkal keduanya mengiringi takdir, artinya tawakkal berfungsi sebelum terjadinya takdir dan ridho berfungsi setelah terjadinya takdir. Allah Swt menyandingkan dua sifat ini dalam satu ayat pada Surah at-Taubah : 59

Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: "Cukuplah Allah bagi Kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah," (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka).

Yang kedua yang dilakukan untuk menumbuhkan sikap ridho adalah upayakan tenang, sabar dan jangan marah. Sikap tenang atau tuma’ninah akan membawa seseorang kepada keteguhan dan kedamaian, setidaknya tidak memperpanjang masalah dan menguras energi dengan marah atau kesal, sedangkan amarah akan menggiring seseorang kepada keraguan terhadap Allah, qodo dan qodar, kebijaksanaan dan ilmu Allah swt. Jarang sekali orang yang marah terlepas dari keragu-raguan yang menyusup kedalam hatinya sekalipun dia tidak menyadarinya.

Rasulullah Saw bersabda : “sekiranya engkau sanggup berbuat dengan ridho disertai keyakinan maka lakukanlah, sekiranya engkau tidak sanggup, maka bersabar dalam menghadapi sesuatu yang dibenci jiwa itu terdapat kebaikan yang banyak” (HR. Tirmizi). Masalah lain yang timbul akibat marah adalah syetan akan lebih berhasil memperdaya kita ketika kita sedang marah dan menuruti hawa nafsu, dan jika kemarahan itu sudah memuncak, biasanya seseorang akan berbuat dan mengatakan sesuatu yang tidak diridhoi Allah.

Ketiga yaitu menyuburkan mahabbatullah (cinta kepada Allah). Ridho adalah ruh nya cinta, ia adalah bukti ketulusan cinta. Orang yang beriman dan cinta kepada Allah akan menganggap segala kesulitan dan rintangan adalah suatu hal yang harus dia cintai, sama halnya dengan mencintai kenikmatan dan kesenangan. Bahkan kesulitan-kesulitan itu akan menjadi cambuk baginya untuk bangkit dan berusaha dengan segenap kemampuan serta tidak berpaling dari jalan yang diridhoi oleh Allah Swt.

Hadirin…………

Demikian khutbah kita kali ini, yang insya Allah menjadi nasihat yang berharga jika direnungi secara mendalam, nasihat agar kita tetap bisa berbahagia untuk menerima apa adanya dari Allah yang telah ditakdirkan Kepada kita.

Memang dalam hidup ini, mimpi dan harapan jelas harus ada, karena tampa mimpi dan harapan kita tidak akan memiliki kekuatan untuk hidup, tetapi sikap ridho dan ikhlas juga harus menjadi hiasan diri kita dalam menjalani hidup ini, terwujudnya suatu harapan dan cita-cita, tercapainya segala mimpi-mimpi hanyalah soal momentum, terwujud hari ini atau besok, terkabul sekarang di dunia atau di akhirat kelak, itu hanya soal waktu, yang terpenting mari kita tumbuhkan jiwa hamba dalam diri kita, karena inilah yang dapat membuat kita ridho atas segala ketentuan Allah dan akan membawa kita kepada keridhoan Allah, dan jika Allah sudah ridho, maka surga dan segala kenikmatannya pasti Allah berikan kepada kita. Semoga Allah Swt senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua, Amin.

بارك الله .....

Berlangganan update artikel terbaru via email:

"Khutbah Jum'at tentang ridho"

Post a Comment

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan artikel di atas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel