Khutbah Jum'at : Hamba Allah Dan Ummat Nabi Muhammad SAW

Kaum muslimin sidang Jama’ah jum’at Rahimakumullah

Puji Syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta nikmat-Nya kepada kita semua sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk melaksanakan ibadah shalat jum’at secara berjama’ah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan atas junjungankita  nabi besar Muhammad SAW.

Sebagai wujud dari rasa syukur tersebut, marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan kualitas ketaqwaan dan keimanan kita kepada Allah SWT yakni dengan jalan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala laranganNya.

Hadirin Sidang Jama’ah Jumat yang berbahagia

Kita sebagai seorang Muslim wajib memiliki dua kesadaran, yaitu : kesadaran sebagai hamba Allah SWT dan kesadaran sebagai ummat Muhammad SAW, Jika kesadaran itu hilang dari jiwa seseorang, maka tindakan dan amalannya akan sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam.

Kesadaran pertama, yaitu kesadaran kita sebagai hamba Allah SWT yang kita tampakkan dalam kehidupan sehari-hari, dalam bahasa agamanya disebut (إِظْهَاُر الْعُبُوْدِيَّةِ) yaitu menampakkan kehambaan kepada Allah SWT.

Contohnya jika kita mau makan meskipun padi kita tanam disawah kita sendiri, beras kita masak sendiri atau kita beli dengan uang hasil kerja kita sendiri, namun ketika kita mau makan maka kita disunnahkan untuk berdo’a: “yaa Allah berilah kami keberkahan darinya dan berilah kami makan darinya” Berarti Allah SWT yang memberi rizki, bukan sawah atau lainnya.

Begitu pula kita punya harta, kendaraan dan lain sebagainya, meskipun kita membeli kendaraan dengan usaha sendiri, dengan uang sendiri, namun ketika mau mengendarai , kita juga disunnahkan untuk berdo’a.

Hadirin sidang Jama’ah jum’at Rahimakumullah

Itulah contoh bahwa setiap saat kita harus nyatakan kehambaan kita kepada Allah SWT, jika pernyataan itu hilang, maka itu berarti bahwa iman kita telah rusak dan kemudian yang akan muncul adalah kesombongan, hal ini telah terjadi pada zaman Nabi Musa As, yang ketika itu penguasanya zalim dan sombong sehingga lupa akan status sebagai hamba, bahkan si raja itu begitu sangat sombongnya sampai ia memproklamirkan dirinya sebagai tuhan, dia menyuruh kepada rakyatnya agar menyembah kepadanya. Dialah raja Fir’aun ‘alaihi laknatullah.

Begitu juga dengan Qorun, seorang yang sangat kaya bahkan diriwayatkan bahwa kunci gudang hartanya saja harus diangkat oleh orang banyak dan kuat-kuat untuk membawanya. Begitu sombongnya qorun dengan menganggap bahwa harta itu semata-mata hasil usahanya sendiri, oleh karenaya maka dia ditenggelamkan oleh Allah SWT kedalam perut bumi beserta hartanya itu.

Hadirin Sidang Jama’ah Jumat yang berbahagia

Kenyataan tersebut tadi sudah tergambar pada zaman sekarang, begitu banyak orang-orang modern yang seharusnya sebagai hamba Allah SWT namun banyak diantara mereka yang mengalihkan penghambaan kepada harta, tahta, dan wanita serta kesenangan dunia. Setiap saat dalam benak mereka hanyalah urusan dunia, mencari kenikmatan dan kepuasan dunia saja tanpa memperhatikan kepuasan akhirat padahal kenikmatan akhirat itu lebih baik dari kenikmatan dunia, bahkan lebih kekal abadi.

Sebagai contoh, ketika ada seruan atau himbauan untuk menafkahkan sebagian rizki di jalan Allah, atau membantu sesama saudara yang sedang dalam kesusahan, maka terkadang yang tergambar dalam benak kita adalah hitung-hitungan untung dan rugi. Jika saya menyumbang ini,memberikan ini, maka uang saya berkurang, jika saya bershodaqoh atau berinfaq, maka berkurang uang belanja, memang secara zhohir uang atau harta akan berkurang, tetapi disisi Allah harta tersebut akan menjadi berlipat ganda.

Memang dalam matematika, 10-1 adalah Sembilan, tapi ketahuilah, bahwa disisi Allah dengan bershodaqoh atau berinfaq 10-1 adalah 17 bahkan 700.

sebagimana firman Allah dalam QS al-Baqoroh : 261 261.
perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir ada seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui
Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, diantaranya yaitu : pembangunan perguruan pendidikan agama, pembangunan masjid , musholla dan lain sebagainya yang bermanfaat untuk kemaslahatan ummat. dalam QS. al-Baqoroh : 254 Allah berfirman 254.
Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. dan orang-orang kafir Itulah orang-orang yang zalim.

Allah SWT menciptakan manusia dan jin adalah untuk menyembah kepadaNya. Makna penghambaan kepada Allah SWT adalah meng-esakan-Nya dalam beribadah dan mengkhusus-kan kepadaNya dalam berdo’a, tentang hal ini Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam bukunya Syarah ushulus Tsalasah, memaparkan persoalan penting yang harus diketahui oleh kaum Muslimin, yaitu: الأُوْلَى اَلْعِلْمُ وَهُوَ مَعْرِفَةُ اللهِ، مَعْرِفَةُ نَبِيِّهِ وَمَعْرِفَةُ دِيْنِهِ اْلإِسْلاَمِ بِاْلأَدِلَّةِ. الثَّانِيَةُ اَلْعَمَلُ بِهِ. الثَّالِثَةُ اَلدَّعْوَةُ إِلَيْهِ. “Pertama adalah ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Rasul dan agama Islam dengan dalil dalilnya kedua yaitu mengamalkannya, dan yang ketiga yaitu mendakwahkannya.” 

Hadirin Sidang Jama’ah Jumat yang berbahagia

Oleh karena itu, hendaknya dalam hidup ini, kita harus berusaha sekuat tenaga dan harus selalu ingat bahwa kita adalah hamba Allah, sehingga kalimat tauhid La ilaha illallah muhammadurrosulullah yang kita ucapkan itu tidak bertentangan dengan praktek yang kita jalankan, sebab seringkali kita mengucapkan Tiada Tuhan Selain Allah, namun dalam kesusahan kita memohon pertolongan kepada selain Allah. Kita mengucapkan Muhammadurrosulullah, namun pada kenyataannya kita mempermainkan dan meremehkan sunnah rosulullah SAW.

Hadirin sidang Jama’ah jum’at Rahimakumullah

Kesadaran kedua yaitu kesadaran kita sebagai ummat Rasulullah SAW.

Kesadaran sebagai umat rasul, adalah menyadari bahwa amalan-amalan kita akan diterima oleh Allah SWT dengan syarat sesuai sunnah Rasulullah SAW . Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Usaimin menjelaskan konsekuensi mengenal Rasul adalah menerima segala perintahnya dan mempercayai apa yang diberitakannya, mematuhi perintahnya, menjahui segala larangan-nya, menetapkan perkara dengan syariat dan ridha dengan putusannya. dari kalangan ahli sunnah waljama’ah sepakat untuk mengimani dan menjalankan apa-apa yang diperintahnya, serta menjauhi apa yang dilarangnya.

Tidak diterimanya ibadah seseorang tanpa mengikuti sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wasallam sebagaimana hadits yang menyatakan :( مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. ).

“Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan dalam agama yang tidak ada perintah dari kami maka ia tertolak.” (HR. Muslim).
( مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ. (البخاري ومسلم).

“Barangsiapa yang mengada-ada dalam perkara agama kami, dan tidak ada perintah dari kami maka ia tertolak.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

berdasarkan hadits tersebut, maka setiap kaum Muslimin dalam amal ibadahnya harus berdasarkan pada apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw, baik berupa ucapan, perbuatan maupun taqrir atau ketetapan.

Hadirin sidang Jama’ah jum’at Rahimakumullah

akhirnya, marilah kita senantiasa berusaha untuk menjadi hamba Allah seutuhnya dan menjadi ummat Nabi Muhammad yang sebenarnya, yang bukan hanya di lisan melainkan dibuktikan dengan perbuatan.

Baarokallahu...........

(sumber : alsofwah.or.id).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

"Khutbah Jum'at : Hamba Allah Dan Ummat Nabi Muhammad SAW"

Post a Comment

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan artikel di atas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel