Waspadalah Dari Modus Penipuan Yang Akan Memanfaatkan Kartu Kredit Anda

Ini pengalaman teman saya yang hampir saja menjadi korban penipuan dengan memanfaatkan kartu kredit. Saya ceritakan ulang agar kita bisa lebih berhati-hati dalam setiap aktifitas. Kisah ini saya sajikan dalam gaya bahasa saya yang saya fahami dari cerita teman yang kita sebut saja namanya Fulan.
phising
Begini kisahnya..

Si Fulan ini pada awalnya sedikitpun tidak ada rencana untuk menggunakan kartu kredit. Lalu pada suatu hari, ia ditelepon oleh seseorang yang mengaku sebagai pegawai dari sebuah Bank (Bank nya tidak perlu disebutkan). Terjadilah percakapan di antara mereka.

Orang itu menawarkan kartu kredit dengan alasan bahwa Fulan adalah nasabah prioritas. Si Fulan tertarik dengan penawaran kartu kredit dari si penelepon dan setuju dengan penawaran itu. Mulailah Fulan mencari-cari informasi di internet tentang kartu kredit.

Beberapa bulan setelah percakapan itu, benar saja kartu kredit yang dimaksud datang ke alamat Fulan. Namun, Fulan tidak langsung mengaktifkan kartu tersebut karena masih ada rasa bimbang dalam hatinya. Namun rasa penasaran juga muncul, sehingga ia mencoba melakukan aktivasi kartu.

Berdasarkan petunjuk yang terlampir bersama kartu, aktivasi pun dilakukan. Namun ternyata gagal. Lalu ia menghubungi call center yang tertera. Jawaban yang sedikit aneh adalah si Fulan diminta melakukan pengajuan permohonan kartu kredit dengan melengkapi persyaratan-persyaratan yang diminta.

Mengapa bahasanya “pengajuan?”. Bukankah kartu sudah diterima? Namun Fulan mengikuti mekanisme itu. Waktu terus berjalan dan Fulan mengabaikan kartu kredit miliknya, tidak diaktifkan.

Lalu pada suatu hari, rasa penasaran Fulan muncul Kembali. Ia mencoba lagi melakukan aktivasi kartu dan ternyata berhasil. Setelah berhasil pun tidak langsung digunakan karena ia khawatir akan besarnya tagihan dari kartu kredit tersebut.

Sampai suatu ketika, Fulan memiliki kebutuhan mendesak dan saat itu ia memang tidak memiliki uang. Iseng-iseng ia mencoba melakukan penarikan tunai dari kartu kreditnya dan berhasil. Nah, dari sinilah segala hal yang kurang baik bermula.

Berselang 3 hari sejak Fulan melakukan tarik tunai itu, selalu saja ada telepon dari nomor yang tidak dikenal menghubunginya. Diawali dengan menanyakan apakah kartu kredit sudah aktif dan bisa melakukan transaksi atau belum, sampai menawarkan ansuransi, bla bla bla. Sepertinya mereka sudah mengetahui jika kartu sudah diaktifkan.

Buktinya, satu minggu kemudian, fulan Kembali dihubungi dari nomor telepon (bukan nomor handphone namun telepon rumah) yang tidak dikenal. Untuk selanjutnya kita sebut saja sebagai “Penipu”.

Si “Penipu” mengaku sebagai pegawai Bank penerbit kartu yang dimiliki Fulan. Ia menawarkan kepada Fulan bahwa limit kartu kredit nya bisa dinaikkan sampai 100%. Selain itu, mereka juga menjanjikan penghapusan biaya tahunan (annual fee).

Mereka juga mengatakan nantinya Fulan akan mendapatkan banyak bonus, seperti diskon pembelian barang-barang elektronik di Bukalapak, JD.ID dan sebagainya. Dengan diskon itu, jika Fulan jual Kembali misalnya handphone, maka Fulan akan mendapatkan untung besar.

Mungkin saat itu entah Fulan lagi kurang focus, atau termakan rayuan maut penipu, maka ia hanya meng-ia-kan saja apa yang diucapkan “Penipu”.

Si “Penipu” meminta disebutkan beberapa angka terakhir nomor kartu kredit Fulan. Gunanya untuk verifikasi data, katanya. Hebatnya, beberapa angka awal nomor kartu itu disebutkan oleh “Penipu” sehingga Fulan menjadi yakin bahwa ini benar pegawai Bank penerbit kartu. (Apakah data Fulan sudah bocor, entah lah). “Penipu” juga menanyakan berapa limit kartu kredit Fulan.

Setelah mendapatkan 8 angka terakhir nomor kartu dan limit kartu kredit Fulan, si “Penipu” mengatakan bahwa beberapa menit ke depan akan ada temannya yang akan menelepon Fulan untuk menyelesaikan proses kenaikan limit dan penghapusan biaya tahunan. Fulan diminta jangan jauh-jauh dari handphone.

Tidak sampai 5 menit, masuk panggilan dari nomor yang berbeda. Menanyakan apakah tadi ada temannya yang menelepon Fulan. Dijawab "Ya". Lalu “Penipu” mengatakan bahwa kenaikan limit dan pembebasan biaya tahunan sedang diproses. Untuk itu Ia menanyakan kepada Fulan nomor CVC atau tiga digit angka terakhir pada nomor di balik kartu kredit dekat pita dan tanda tangan dengan alasan untuk mempermudah verifikasi data.

Polosnya Fulan, semua itu ia sebutkan tanpa rasa curiga sedikitpun. Terlalu berbaik sangka.

“Penipu” mengatakan bahwa ada SMS masuk ke HP Fulan dan mohon disebutkan berapa angka yang tertera di SMS (Kode OTP). Itupun Fulan lakukan. Terus sampai 2 kali kode OTP masuk melalui SMS dan semuanya disebutkan oleh Fulan kepada “Penipu”.

“Penipu” bertanya berapa sebenarnya limit kartu kredit Fulan. Dijawab bahwa limitnya sekian juta. Ternyata pada telepon pertama, Fulan lupa berapa limit kartu kreditnya sehingga berbeda dengan limit yang sebenarnya.

Lalu masuk lagi SMS ketiga dan “Penipu” menanyakan berapa angkanya. Setiap masuk SMS, “Penipu” meminta agar segera dihapus dengan alasan jika belum dihapus, proses tidak bisa dilanjutkan.

Lalu “Penipu” berkata bahwa proses akan dilanjutkan esok hari. Selama dua hari ke depan, “Penipu” meminta agar Fulan jangan dulu menggunakan kartu kreditnya sebab proses kenaikan limit bisa gagal. Oh polosnya Fulan.

Keesokan harinya, masih pagi, Fulan ditelepon oleh nomor yang tidak dikenal. Dia menanyakan apakah kartu kredit fulan sudah digunakan? Dijawab "sudah". Lalu ditanyakan lagi, apakah kemarin Fulan ada melakukan transaksi? Dijawab "tidak". Dia mengatakan bahwa “ada transaksi yang tidak wajar pada kartu kredit bapak, kemungkinan bapak telah menjadi korban penipuan dan kartu kredit akan diblokir”.

Tentu saja Fulan terkejut dan panik. Fulan menanyakan apa saja transaksinya? Dijawab, bahwa mereka mencoba melakukan pembelian barang elektronik di merchant A dengan nilai transaksi 15 juta lebih. Kemudian transaksi kedua di merchan B dengan nilai 7 juta lebih dan transaksi ketiga 6 juta lebih. Fulan kaget bukan kepalang. Terbayang bagaimana ia akan membayar semua itu.

Namun alhamdulillah-nya, dikatakan oleh orang yang menelepon itu bahwa ketiga transaksi tersebut statusnya gagal. Fulan disarankan untuk menghubungi call center Bank penerbit kartu. Dari call center itu fulan mendapatkan informasi bahwa transaksi yang mereka (Penipu) lakukan semuanya gagal dan fulan tidak dikenai tagihan apapun.

Tidak henti-hentinya Fulan mengucapkan rasa syukur. Ia berfikir, bisa jadi, belanja melebihi limit kartu inilah penyebab kegagalan itu. Semua ini adalah pertolongan dan perlindungan dari Allah sehingga ia salah dalam menyebutkan limit kartu kreditnya. .

Sore harinya, fulan mencoba melakukan Tarik tunai dengan menggunakan kartu kreditnya dan ternyata benar bahwa kartu kredit sudah diblokir pihak Bank. Fulan sedikit tenang. Namun ia masih penasaran dengan semua yang telah terjadi.

Keesokan hari, masih pagi Fulan menelepon call center menanyakan transaksi pada tanggal sekian dari kartu kreditnya. Setelah pencocokan data, customer menyebutkan transaksi yang terjadi pada tanggal yang diminta lengkap dengan nilainya. Semua transaksi itu statusnya gagal. Fulan sangat senang. Berarti benar info sebelumnya.

Siang harinya, fulan kembali ditelepon nomor tidak dikenal yang mengatakan bahwa proses kenaikan limit akan dilanjutkan. “Penipu” itu juga mengatakan bahwa sudah ada SMS yang masuk dan minta Fulan untuk menyebutkan angkanya. Fulan melihat SMS itu dan ternyata transaksi di merchant senilai 7 juta lebih.

Fulan sudah waspada dan segera menutup telepon. Ditelepon lagi oleh “Penipu” itu dan diabaikan oleh Fulan.

Keesokan harinya (setiap hari sejak mereka berhasil memperdaya Fulan), mereka menelepon Fulan Kembali dan diabaikannya.

Hari berikutnya, “Penipu” itu telepon lagi. Kali ini ditanggapi oleh Fulan. Dan yang menelepon ternyata Wanita. Beberapa “Penipu” sebelumnya adalah laki-laki. Gaya bicara mereka betul-betul seperti Customer Bank. Sangat meyakinkan.

Wanita penipu ini (Fulan sudah mengira bahwa ini penipu) mengatakan bahwa proses pengiriman kartu pengganti sedang dilakukan (loh kok dia tahu…!). Untuk itu Fulan diminta melengkapi data. Wanita penipu ini menanyakan tanggal lahir Fulan. Fulan jawab namun tentu saja bukan yang sebenarnya.

Wanita penipu itu mengatakan bahwa data Fulan tidak muncul. Ia menanyakan apakah itu tanggal lahir yang tertera di KTP? Fulan jawab “Ya benar itu tanggal lahir saya”.

Lalu penipu itu berkata, untuk penyelesaian proses, diminta agar Fulan membuat surat pernyataan bahwa memang benar itu tanggal lahir Fulan dilengkapi dengan Foto KTP dan dikirimkan ke email yang disebutkannya.

Beberapa jam kemudian, Wanita penipu ini telepon lagi bahwa selain surat pernyataan dan KTP, syarat tambahannya adalah Foto kartu kredit.(Semakin semakin saja tu “betina”). Namun Fulan sudah mendapatkan pelajaran dari peristiwa hari-hari sebelumnya sehingga ia mengabaikan semua itu.

Dari kejadian yang dialami oleh Fulan ini, maka sudah sepatutnya kita senantiasa waspada dan jangan lupa berdo’a mohon kepada Allah agar selalu dilindungi-Nya.

Baca juga ⇛ TIPS Agar Aman dari Penipu yang Akan Menguras Kartu Kredit Anda

Demikian semoga bermanfaat.

Posting Komentar untuk "Waspadalah Dari Modus Penipuan Yang Akan Memanfaatkan Kartu Kredit Anda"