Khutbah Jum'at Kemuliaan dan Memuliakan Rasulullah

seperti biasa muqaddimah silahkan ditambahkan sendiri

Hadirin…..

Di hari yang mulia, atas izin Allah kita kembali dapat hadir bersama di tempat yang mulia, masjid yang kita cintai ini dalam keadaan sehat wal ‘afiyat guna menunaikan sholat jum’at berjama’ah.

Semua ini adalah merupakan nikmat dari Allah. Terhadap nikmat tersebut, sebagai seorang mukmin, patutlah kita mensyukurinya. Syukur atas nikmat Allah dapat dilakukan di dalam hati, dengan lisan ataupun perbuatan. Dan bersyukur dengan perbuatan merupakan tingkatan yang paling tinggi.

Contoh bersyukur atas nikmat Allah melalui perbuatan adalah, jika berupa umur yang panjang, maka kita pergunakan umur itu untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah. Badan yang sehat, kita pergunakan untuk memperbanyak ibadah kepada Allah. Nikmat rezeki disyukuri dengan cara menafkahkan sebagian rezeki itu di jalan Allah. Nikmat ilmu disyukuri dengan jalan mengamalkan dan mengajarkan ilmu tersebut.

Pendek kata, segala bentuk kenikmatan dari Allah, kita pergunakan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Itulah tanda syukur. Namun apabila kenikmatan-kenikmatan dari Allah kita pergunakan untuk bermaksiat, maka berarti kita termasuk golongan orang yang kufur nikmat.

Selanjutnya, di hari yang mulia ini pula, mari kita memperbanyak bersholawat kepada baginda Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam. Satu sholawat yang kita baca untuk Nabi, sepuluh kebaikan Allah balaskan untuk kita. Dan setiap kita menyebut ataupun mendengarkan nama Nabi Muhammad disebutkan, hendaklah diiringi dengan sholawat, Shollallahu ‘alaihi wasallam.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril AS berdo’a dan do’anya diaminkan oleh Nabi. Hadirin,, apakah kita ragu akan kemustajaban do’a itu. Yang berdo’a pimpinan para malaikat, yakni jibril, yang mengaminkan adalah penghulu para Nabi dan Rosul.? Diantara do’a malaikat jibril adalah “celaka, sungguh celaka, orang yang apabila disebutkan namamu wahai Muhammad, namun tidak mau bersholawat kepada mu”.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, orang yang paling pelit adalah orang yang apabila disebutkan nama ku namun tidak mau bersholawat kepada ku. Dan para ulama menghukumi makruh apabila kita menulis nama Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam namun tidak disertai dengan kalimat Shollallahu ‘alaihi wasallam. Dan ini tidak boleh disingkat-singkat. Jangan dibiasakan menyingkat menjadi S A W, walaupun tujuannya adalah Shollallahu ‘alaihi wasallam, namun kurang tepat, dan jika dibaca secara utuh, menjadi SAW dan itu dalam bahasa inggris artinya adalah gergaji.

Hadirin………

Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam adalah hamba Allah yang mulia melebihi seluruh manusia hatta para Nabi sekalipun. Dan ini tidak dapat dibantah oleh siapapun. Allah SWT di dalam al-Qur’an memuji Rasulullah. Dalam surah al-Qolam ayat 4 Allah berfirman
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung

Keagungan Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam bukan hanya diakui oleh orang Islam saja, orang di luar Islam pun pada hakikatnya mengakui kemuliaan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga sangat disayangkan apabila ada orang Islam justru memiliki sikap seolah-olah (kita bukan menuduh), seolah-olah merendahkan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam.

Jika ini terjadi, maka yang senang adalah orang kafir orientalis yang dari awal selalu mencari-cari di mana celah untuk menyerang Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam. Setelah mereka tidak mampu menyerang al-Qur’an untuk mengubah redaksi maupun isinya, maka mereka menyerang sumber hukum Islam yang kedua yaitu Hadits atau sunnah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam. Termasuk menyerang kepribadian beliau. Berbagai tuduhan keji mereka lontarkan, dan anehnya ada ummat Islam yang terpengaruh dan mengikuti pemahaman kaum kafir tersebut.

Hadirin…

Kita ulas kembali sedikit sejarah beliau walaupun bulan Rabi’ul awal telah berlalu. Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam sejak bayi sudah memiliki berbagai keistimewaan. Dan ini disebut dengan istilah irhash. Irhash itu adalah kelebihan-kelebihan yang diberikan oleh Allah untuk orang yang akan menjadi Nabi. Sedangkan mukjizat adalah kelebihan untuk para Nabi.

Di dalam kitab Nurul Yaqin Fii Siirati Sayyidil Mursaliin karangan Syekh Muhammad Al-Khudhari Bek akan kita dapati kemulian-kemuliaan itu. Seperti keberkahan untuk keluarga halimatus sa’diyah setelah ia mengambil Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam sebagai anak susuannya. Awalnya mereka hidup serba kekurangan alias sangat miskin, namun kemudian berubah menjadi berlimpah rezeki.

Keistimewaan lain, Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam itu jika berjalan maka akan selalu dinaungi oleh awan sehingga beliau tidak kepanasan. Dan batu serta pepohonan yang beliau lewati akan mengucapkan salam untuknya.

Hadirin…..

Banyak lagi keistimewaan-keistimewaan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam yang dapat kita temukan dalam kitab-kitab sirah dan akan terlalu panjang jika diuraikan semuanya saat ini. Intinya, beliau adalah manusia yang paling mulia dan kita wajib memuliakaannya dan jangan sampai merendahkan, melecehkan, menghina apalagi menjadikan beliau sebagai bahan gurauan atau bumbu humor. Termasuk membanding-bandingkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam dengan manusia manapun, tidak pernah sebanding. Kita bandingkan dengan bapak kita misalnya, datuk moyang atau siapapun.

Oleh karenanya, Kita harus berhati-hati dalam menyebutkan segala hal yang berhubungan dengan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam agar terhindar dari perbuatan penghinaan terhadap beliau walaupun berupa gurauan. Orang yang menghina Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallam sepakat para ulama hukumnya adalah murtad.

Allah SWT berfirman dalam surah at-Taubah ayat 65
وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥
65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?

Saat orang-orang munafik yang menghina Nabi itu menyanggah, bahwa mereka melakukan itu hanya sekedar bercanda, Allah menjawab dalam ayat selanjutnya yakni ayat 66,

لَا تَعۡتَذِرُواْ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَٰنِكُمۡۚ إِن نَّعۡفُ عَن طَآئِفَةٖ مِّنكُمۡ نُعَذِّبۡ طَآئِفَةَۢ بِأَنَّهُمۡ كَانُواْ مُجۡرِمِينَ ٦٦
Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

Demikian beratnya hukum untuk para penghina Rasulullah, maka kita berlindung kepada Allah dari perbuatan tersebut. Ya Rasulullah, kami mencintaimu, kami rindu kepada mu, akuilah kami sebagai ummatmu, yang akan mendapatkan syafaatmu dan minum dari telagamu di akhirat kelak.

hadirin... Mulai saat ini, mari kita biasakan untuk terus bersholawat kepada baginda Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam sebab kita ummat yang hidup di zaman akhir ini adalah saudara-saudara beliau.

Perhatikan hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim:

Suatu ketika, Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang mulia. Di sana hadir pula sahabat paling setia, Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian Nabi berkata, “Wahai Abu Bakar, aku begitu rindu ingin bertemu dengan saudara-saudaraku.”
Suasana di majelis itu hening sejenak. Terlebih Abu Bakar. Itulah pertama kalinya dia mendengar pengakuan Nabi.
“Apakah maksudmu berkata demikian, wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” tanya Abu Bakar
“Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku.” jawab Rasul.
“Kami juga saudaramu, wahai Rasulullah,” kata seorang sahabat yang lain.
Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallam menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Nabi bersabda:
“Saudara-saudaraku adalah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku dan mereka mencintai aku melebihi anak dan orang tua mereka. Mereka itu adalah saudara-saudaraku dan mereka bersama denganku. Beruntunglah mereka yang melihatku dan beriman kepadaku dan beruntung juga mereka yang beriman kepadaku sedangkan mereka tidak pernah melihatku.” (Hadis Muslim)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Khutbah Jum'at Kemuliaan dan Memuliakan Rasulullah"

Posting Komentar

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan artikel di atas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel