Khutbah Jum'at : Menyambut Bulan Ramadhan

Ma’asyirol Muslimin ………

Mengawali khutbah ini, saya ingin mengajak kita semua untuk merenungi firman Allah yang terdapat dalam surah ar-Rohman :
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Ayat tadi terulang dalam surah ar-Rohman lebih kurang sebanyak 28 kali, apa artinya itu? Artinya Allah ingin kita merenungi bagian mana yang ada pada tubuh kita maupun di luar tubuh kita ini yang bukan nikmat Allah? Lalu mengapa masih kita dustakan tidak mau bersyukur?

Oleh karena itu ayyuhal ikhwan, marilah kita senantiasa mengabdi kepada Allah, beribadah dengan sebaik-baiknya, menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Dan ketahuilah, tidak ada bekal yang dibutuhkan oleh manusia ketika nanti menghadap Allah setelah kematiannya kecuali taqwa.
Allah SWT berfirman,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (QS. al-Baqarah:197)

Dan Rasulullah bersabda,
اِتَّقِ اللهَ حَيْثمُاَ كُنْتَ وَأَتبِْعِ السَّيِّئَةَ اْلحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلقٍُ حَسَنٍ (رَوَاهُ التِّرْمِذِي)
“Bertakwalah kamu di mana saja kamu berada, dan sertakanlah olehmu kej*hatan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskannya (kej*hatan tersebut), serta pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”. (HR. at-Tirmidzi, dengan sanad hasan shahih).

Hadirin yang dirahmati Allah

Diantara kita mungkin sudah akrab dengan ungkapan atau mungkin juga merupakan motto hidup yang cukup sederhana, "Kesempatan itu tidak datang dua kali". Kenapa kita katakan sederhana?? sebab ungkapan ini terkadang kita anggap bagaikan angin lalu yang tak ada arti bagi sebagian orang, padahal anak kecil saja tahu dan mengerti kalau hari-hari yang telah dilewatinya tidak akan pernah terulang dan kembali lagi.

Namun bagi orang-orang yang selalu merenungi dan menghayati hidup yang dijalani, selalu mengevaluasi diri dan ingin hari-harinya yang sekarang dan yang nanti lebih baik dari hari-harinya yang telah lalu, ungkapan sederhana tadi mengandung makna yang mendalam. Karena baginya hari-hari yang telah lalu adalah sejarah sekaligus pelajaran untuk menatap dan manata hidup di masa depan yang lebih baik, pelajaran mahal yang tak bisa dinilai dengan rupiah, hari-hari yang telah berlalu akan menyisakan kenangan dan kenikmatan bagi siapa saja yang menghabiskannya untuk sesuatu yang indah dan penuh makna.. Dan selalu akan meninggalkan penyesalan dan kesedihan yang mungkin tak terlupakan bagi siapa saja yang menjalaninya untuk sesuatu yang sia-sia dan penuh dosa.

Hadirin yang dirahmati Allah 

Tentunya bagi seorang mukmin, hari-hari adalah sebuah kesempatan yang berharga untuk beramal sebanyak-banyaknya yang tidak akan pernah ia sia-siakan begitu saja. Sehingga ia selalu berupaya untuk mengisi lembaran-lembaran hidupnya dengan sesuatu yang mendatangkan keridhaan dan kecintaan Allah Ta’ala. Sebagaimana dia tahu Rasulullah bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ اْلمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ (رواه الترمذي)
"antara kesempurnaan (kebaikan) Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna bagi dirinya.”. (HR. at-Tirmidzi)

Hadirin yang dirahmati Allah

Kalau hari-hari yang biasa saja dijalani oleh seorang mukmin ia manfaatkan dengan sebaik mungkin, apalagi jika ia berada di hari-hari yang di dalamnya terdapat banyak keistimewaan yang disediakan, tentunya betul-betul tidak sedikitpun ia akan sisakan hari dan waktunya kecuali untuk mengejar dan meraih semua keistimewaan itu. Dia akan bersemangat dengan sekuat tenaga demi sebuah prestasi yang akan diraih. Allah SWT berfirman,

dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah:148)

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah 

Hari-hari yang indah dan didambakan itu kini hampir datang kepada kita, hari-hari yang terdapat pada bulan yang sangat istimewa di sisi Allah dan bagi siapapun yang mengetahui keistimewaannya, tamu nan agung yang selalu dinanti-nanti oleh semua orang yang merindukannya, dia adalah bulan ramadhan, bulan rahmah, bulan maghfirah, bulan berkah, bulan sabar, bulan Qur’an, bulan shadaqah, bulan pendidikan dan madrasah bagi orang-orang yang beriman, bulan dilipat-gandakan pahala dari setiap amalan yang dikerjakan di dalamnya dan masih banyak lagi nama-nama yang indah untuknya yang belum disebutkan, sesuai dengan banyaknya kebaikan dan keutamaan di dalamnya.
Allah SWT berfirman,

"bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)". (al-Baqarah : 185)

Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللهِ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ يَقُولُ: قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ, شَهْرٌ مُبَارَكٌ, كَتَبَ اللهُ عَليَْكُمْ صِيَامَهُ, فِيهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ اْلجَنَّةِ, وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ اْلجَحِيمِ, وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ, فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ, مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ (رواه أحمد والنسائي(
“Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam biasanya memberi kabar gembira kepada para shahabatnya dengan bersabda,'Telah datang kepada kalian bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh berkah, Allah telah mewajibkan kalian berpuasa Ramadhan, Pada bulan ini pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu jahannam ditutup, tangan-tangan syetan dibelunggu, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, maka barangsiapa yang dijauhkan (diharamkan) dari kebaikannya, maka benar-benar telah dijauhkan.” (HR. an-Nasa’i)

Ma’asyirol Muslimin rohimakumullah

Wahai saudara se-iman, jangan biarkan bulan yang penuh keistimewaan itu berlalu dan lewat begitu saja di depan mata, cukuplah ramadhan yang lalu menjadi pelajaran dan sekaligus penyesalan yang nyata, karena kita telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada dengan hanya membawa sedikit amal. Atau boleh jadi tidak sedikitpun pahala yang terbawa, karena banyak amalan utama yang tak terjaga, dan hilang dengan sia-sia. Allah SWT berfirman,

ياأيهاالَّذِينَ ءَامَنُوااتَّقُوااللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوااللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ. وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوااللهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ 
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr:18-19)

Ma’asyirol Muslimin rohimakumullah

Dalam beberapa hari menjelang datangnya bulan yang mulia itu, mari kita pasang tekad dalam hati, bahwa ramadhan tahun ini harus lebih baik dari ramadhan tahun lalu, tarawihnya lebih rajin, baca al-Qur’annya lebih banyak, sedekahnya lebih banyak, hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa berkurang, dan yang tak kalah pentingnya adalah tanamkan dalam hati bahwa tidak ada jaminan tahun depan akan bertemu lagi dengan bulan ramadhan.

Ma’asyirol Muslimin rohimakumullah

Tentunya untuk menjadikan ramadhan lebih baik dan berkualitas, dibutuhkan persiapan yang sangat serius dan sungguh-sungguh. Khususnya yang lebih utama adalah menyiapkan ilmu-ilmu syari’at seputar ramadhan itu sendiri. Sehingga dengan bekal tersebut betul-betul seseorang akan menjalani ramadhannya dengan Iman dan ihtisab (hanya mengharap pahala dan ridha Allah semata), Rasulullah bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا عُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan hanya mengharap pahala dari Allah (ihtisab), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Muttafaq’alaih).
Dalam hadits yang lain,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا عُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (متفق عليه)
“Barangsiapa mendirikan shalat malam Ramadhan (tarawih) karena iman dan hanya mengharap pahala dari Allah (ihtisab), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (Muttafaq’alaih)

Demikianlah, semoga khutbah ini bisa menjadi renungan bagi kita semua untuk menjadikan ramadhan kali ini menjadi lebih berarti dan lebih baik dari ramadhan tahun lalu. Amin.
……………………………………………………………………….................................................

يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلىَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: 183)
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah:183)

Allah SWT berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (ال عمران: 133)
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran:133)
Bahan Bacaan : alsofwah.or.id

Berlangganan update artikel terbaru via email:

"Khutbah Jum'at : Menyambut Bulan Ramadhan"

Post a Comment

Saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan artikel di atas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel